Pages

Minggu, 15 Juni 2014

Masyarakat Baru Indonesia



 Diterbitkan di Riau Pos, Ahad, 15 Juni 2014
 #Jumardi



        Antara Islam, Modernitas, dan Keindonesiaan adalah ketegangan yang dialami oleh Anis Matta selama ia masuk ke wilayah politik. Hal tersebut karena masa kecilnya ia habiskan di pesantren. Pesantren, kata Anis Matta kerap menjadi isolasi sosial agama dari lingkungan sekitarnya. Dengan semangat penyucian dan pencarian keheningan, kebanyakan pesantren berada di pinggiran kota. Pesantren seperti orang yang berpaling dan lari dari kerumunan karena merasa tidak nyaman dengan suatu keramaian. Pesantren menyingkir ke pinggiran kota karena kota adalah tempatnya hawa nafsu dan kekotoran.

     Itulah yang kemudian menjadi ketegangan antara Islam dan modernitas, yang menurut Anis Matta tercermin dalam “politik ruang” pesantren. Ia sengaja menjaga jarak dengan realitas sekeliling seperti orang berbaju bersih yang enggan ke pasar becek karena khawatir terciprat lumpur. (halaman 2)

            Di pesantren, seringkali “menyampingkan” modernitas dan berkutat pada ilmu-ilmu “lama”, sehingga banyak santri yang tamat dari pesantren kemudian merasa asing dengan modernitas dan keindonesiaan. Mereka gagap dengan teknologi-teknologi canggih yang lagi tren. Akhirnya mereka “menyingkir” dari dunia seperti itu.      

Rabu, 11 Juni 2014

Beginilah Cara Saya Menulis


Tentang motivasi
Dia memberikan motivasi kepada banyak orang. Motivasi untuk bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Seseorang yang mendapatkan motivasi itu. Maka pada waktu itulah mencoba memberikan manfaat melalui tulisan kepada orang lain.
Jauh sebelum itu, motivasi-motivasi memberi banyak manfaat kepada orang lain dimulai karena motivasi membaca. Membacalah yang memotivasi untuk menulis, karena menulis adalah menyuruh orang lain membaca. Jika saja tulisan tidak memotivasi orang untuk membaca, siapakah yang akan mau membaca tulisan? Maka memang jauh sebelum itu harus ada—bahkan setiap tulisan yang ditulis oleh penulis—yang memotivasi, yang menggerakkan orang lain untuk membaca. 

Daftar Karya yang Terbit di Media

Jumardi

1. Artikel
- Pemimpin pilihan menurut hadis, 2010, riau pos
- Jangan lupa mengasah, 2011, buletin asy-syams
- Mereka terus menanjak, kita terus diinjak, ushuluddin, 2011
- Menerka tawa sangka. ushuluddin, 2010
- Antara pemerintah, rakyat dan elemen pemerintah, kammi-riau.org, 2012
- Tunjuk ajar melayu turut lantunkan UIN Suska Madani, (lomba KTI BEM UIN Suska Riau, 2010)
- Gotong royong bergantian (riau pos, 1 April 2012)
- Talbis Iblis Kepada Penguasa, Posmetro Indragiri, 2013
- Menilik Visi Pendidikan Capres, Riau Pos 2014
_ Kunci Pendidikan Berkualitas, Riau Pos 2014

2. Essay
- Memahami sastra Islam, (12 februari 2012, Essay riau Pos)
- Memberantas Korupsi dengan sastra, (essay Riau pos,25 maret 2012
- Memahami Perempuan Lewat Cerpen, Riau Pos 2014
- Yang Mesti diajarkan kepada Anak Melayu, Riau Pos 2014

3. Puisi
- Guruh angin luruh, (majalah ekspresi juni 2011)
- Air mata, (riau pos, 27 juni 2010)
- Bencana itu (riaupos, 11 april 2010)
- Jika waktu terlewatkan, riaupos, 2010
_ dosa, riau Pos, 2010
_ Jika saja jiwa itu, riau pos 2010
- Sedihkah dikau (Metro riau, 1 April 2012)
- Hujung dunia (metro riau, 18 maret 2012)
- 21.20 (metro riau, 1 april 2012)
- Negeri yang di Gerogoti, Posmetro Indragiri, 2013
- Jerasa, Posmetro Indragiri, 2013

4. Cerpen
- Selalu ada cerita tentang Abah, (riau pos, 30 mei 2010)
- Setengah hari di Ash shahwah (riau pos, 5 september 2010)
- Kisah dalam pabrik (metro riau, 27 mei 2012)
- Kisah Akhir Putih Abu-Abu, riaupos 2012

5.Resensi
- Satu buku sejuta Ilmu ( riau pos, 12 desember 2010)
- Meramal kehidupan sosial 50 tahun mendatang (riau pos, 17 juli 2011)
- Lompatan kepemimpinan ala nabi sulaiman (riau pos, 2 oktober 2011)
- Belajar dari keluarga Yoyoh Yusroh (riau pos,27 November 2011)
- "renaisans" mahasiswa (riau pos, 4 desember 2011)
- Menjadi hafidz al quran (riau pos, 1 januari 2012)
- merenovasi indoensia (riau Pos, 15 januari 2012)
- Biografi sang pejuang (riau Pos, 5 februari 2012)
- Kisah-kisah di tahun 2011 (riau pos, 4 maret 2012)
- BUMN Untuk kesejahteraan rakyat (riau pos, 1 april 2012)
- Manfaat manajemen waktu (riau pos, 13 mei 2012)
- Mencintai dengan Benar, Riau Pos, 2012
- Publik Relation ala Nabi SAW, Riau Pos, 2013
- Lima Rahasia Membangun Kehidupan Pernikahan yang Bahagia, Riau Pos 2013
- Tenang Saat Sibuk, Riau Pos 2012
- Mendesain Prilaku Anak Sejak Dini, Koran Jakarta, 2012
- Presiden Yang Ulama, Riau Pos, 2012
- Nasehat untuk Perempuan Anti Poligami, Dakwatuna, 2013
- Inspirasi Kampus Madani, Riau Pos, 2013
- Mengenal Lebih Dekat Agama Kristen dan Yahudi, Koran Jakarta 2013
- Kebutuhan Manusia Terhadap Agama, Riau pos 2013
- Membuat Bros Jilbab dari Resleting, Riau Pos 2013
- Cara Kreatif Membuat Box Origami, Riau Pos 2014
- Seluk Beluk Memelihara Koi, Riau Pos 2014
- Kaidah-Kaidah dalam Berdakwah, Riau Pos 2014
- Menjemput Kesyahidan di Rabiah Al-Adawiyah, Riau Pos 2014
- Manajer Terhebat Manchester United, Riau Pos, 1 Juni  2014
- Masyarakat Baru Indonesia, Riau Pos, 15 Juni 2014

6. Buku
- Saat Mentari Mulai Menyinariku (asy-syams publishing, 2012)
- Bersama Tarbiyah Kutemukan Cahaya (Smart Writing, 2013)
- Pemikiran Hadis dari Arab hingga Orientalis (Proses Terbit di Gramedia)
- Sketsa Tanah Melayu, Lingkar Pena Publishing House, 2013
- Mekanika II, Goresan Pena, 2013
- Dapur Ampuh, Soega Publishing, 2013
- Memahat Mega Makna, Soega Publishing, 2013

Selasa, 16 Oktober 2012

“Kemerdekaan yang usang”

Karya yong mara

Sejarah usangku tak lagi di ingat anak cucu disini bumi pertiwi katanya
Penuh dengan rempah-rempah dan minyak bumi yang melimpah tetapi hanya sebagai pekerja saja

Orang asing masuk keindonesia disanjung –sanjung masuk media
Walau berbahasa Indonesia masih patah-patah
Coba orang Indonesia datang kesana
Bak jadi budak dan cacian saja
Karena tak mampu berbahasa mereka

Apa yang harusku ceritakan pada cucuku
Tentang zamanku …bila dia bertanya
Apakah kita sudah merdeka kek..?
Tetapi kenapa mereka tidur dibawah jembatan kek..?
Kenapa mereka dijalanan kek?
Apa seperti itu merdeka kek.?

Kakek ku bercerita
Dulu ditempat kita ini ada pahlawan kita yang menembakki
Pesawat Negara penjajah yang jatuhnya tepat dibandara udara kita
Simpang tiga
Lalu aku bertanya apakah pesawat yang bergantung itu kek..?
Bukan cucuku
Itu pesawat yang kita beli
Lalu mana pesawatnya kek
Entahlah cucuku
Mungkin sudah menjadi sampah.

Yang tidak pernah masuk media masa hingga sejarah dunia
Apa memang ada ataukah kakekku yang berdusta tentang sejarah ini.
Semoga saja kemerdekaan bukan nyanyian yang hanya
Syarat saja untuk mengenang.

mahasiswa universitas lancang kuning jurusan sastra Indonesia


Jerasa: kau dan aku

: Jumardi

angin menitiki embun
saat hujan tak basahi jiwamu

fajar telah pergi berlayar
bersama ombak yang gegap

petir sekekali menyambar aura hujan
mengejut ruh yang kian mangu

kau bangun dalam kegilaan
meneriaki jendela yang terbuka

silau menjemput matamu
memangu dalam riak mulutmu

sejenak bisu hari ini
tak keluarkan melodi sunyi

rintik-rintik atap
meratapi bayang-bayang gelap

malam kemaren yang tanpa fajar
di dua pulau yang beda musim

aku dan kau mengikat harap
pada seutas tali yang hampir putus

oktober 2012

Perempuan yang Menyukai Hujan

Oleh: Nafi`ah Al-Ma`rab

Perempuan separuh baya itu memamahkan dirinya pada hujan. Ia terus saja berdiri memandangi gelombang laut berwarna coklat. Rautnya telah menua, meski tak setua usianya. Jujur ada gurat-gurat ayu yang masih tersisa di wajahnya, tapi sepertinya kian hari kian memudar. Luka di hatinya adalah bara yang selalu mematikan senyumnnya di setiap pagi. Minah telah sejak tadi berdiri mendekap tiang pelabuhan. Sejak hujan mulai turun rintik-rintik pagi ini. Matanya tak bergeser menatap deretan kayu punak yang berbaris setinggi dua kali ukuran manusia. Maklum lah air sedang surut, pancik pelabuhan menjadi lebih tinggi dari biasanya. Perempuan-perempuan muda harus berteriak-teriak minta tolong awak kapal saat akan naik ke pelabuhan. Minah terus saja memandangi deretan penumpang yang baru turun dari kapal keritang. Matanya kuyu, jilbab kusamnya tetap terbalut rapi di kepalanya. Baju katunnya sedikit basah, tapi sepertinya ia tak peduli dengan kondisinya. Ia tetap berdiri memeluk tiang pelabuhan. Menatapi wajah-wajah oriental yang melintasinya.
Satu dua orang memperhatikannya. Mungkin saja hati mereka merasa sedikit aneh menatap Minah. Tapi wajah-wajah itu tak ambil pusing. Bukan urusan, mereka tentu lebih terfokus pada urusan masing-masing. Mungkin saja mereka berpikir Minah adalah pengemis pelabuhan Teluk Belitung, Meranti. Tidak, Minah adalah wanita tegar, dia tak pernah mengemis kepada siapa pun. Berhari-hari ia di pelabuhan hanya untuk menepati janji setianya. Sayyid, suami tercintanya telah menorehkan luka terdalam. Tapi Minah betul-betul wanita baik, ia terus di situ untuk menunggu.
            “Wan, ada kau nampak Sayyid?” Minah mengalihkan pandangannya pada seorang awak kapal yang tengah keberatan mengangkat barang penumpang.
            “Sayyid?” yang disapa hanya menaikkan alis.
            “Wan, dimana kau jumpa Sayyid? Sudah sampai mana dia? sampai Semukut kan, Wan?” Minah terus saja bersuara. Lagi-lagi yang disapa tak menggubris. Beberapa penumpang terlihat aneh menatap Minah. Ada dua tiga wajah berbisik, ada pula yang tertawa. Raut muka Minah memuram.
            “Wan, aku tanya kau lah. Ada kau jumpa, Sayyid?”
            “Sayyid dah meninggal. Tak usah lagi kau tunggu dia, Minah.” Lelaki itu menjawab asal sambil tak menoleh. Ia lebih sibuk menagih uang lima ribu kepada penumpang untuk sewa upah barang.
            “Kau jangan asal bicara, Wan! Sayyid akan pulang ke rumah. Dia pasti pulang. Jangan sembarangan kau cakap!”
            “Kalau kau tak percaya, tunggu saja sampai kiamat di pelabuhan. Sayyid tak akan pulang, Minah!” Lelaki itu tak mau kalah. Matanya sesekali menatap Minah sambil tangannya lincah menghitung lembaran lima ribu.
            Minah kembali berbalut duka. Sayyid adalah suami tercinta. Ia pergi bak ditelah bumi. Orang-orang bilang Sayyid pergi bersama Latifah, sahabat karib Minah semenjak kecil. Tapi Minah perempuan yang terlalu baik. Ia tak pernah percaya pada kabar burung yang diisukan tetangga. Ia lebih percaya pada jantung hatinya. Lelaki yang selama dua puluh tahun usia pernikahannya tak pernah membuatnya menangis. Mungkin kedengarannya terlalu mengada-ada. Tapi itulah yang dirasakan Minah.
Sayyid lelaki terbaik di dunia. Suami yang mengerti kesibukan istri. Bila Minah sedang menakik karet di belakang rumah, Sayyid lah yang memasak di dapur. Bila Minah kesiangan bangun tidur, Sayyid telah siap dengan dua pinggan nasi goreng di tangannya. Tak ada yang kurang pada Sayyid. Dia lah pria sempurna yang diturunkan Tuhan untuk Minah. Minah terlalu mencintai Sayyid.
            Minah menepis air hujan yang menyinggahi bulu matanya. Bajunya telah kuyup. Tangannya pun memeras kain katun itu hingga mengucur lah air segelas kecil. Minah tak pedulikan hujan. Mungkin Sayyid memang tak datang dengan kapal keritang, tapi mungkin ia akan datang dengan kapal tenggiri, dua jam lagi. Hujan terus merentasi pelabuhan. Daratan tampak meluas. Pantai itu tak biru, tapi kecoklatan. Puluhan ekor burung walet berterbangan melintasi Minah. Perempuan itu sesekali tersenyum menatap burung walet. Teringat kisah cintanya yang bermula dari rumah ternak burung walet bersama Sayyid.
Sayyid dulu punya usaha rumah burung walet, sewaktu mudanya. Tak sengaja Minah melintasi rumah itu saat Sayyid tengah berdiri di depan rumah. Putik cinta pun bersemi. Bergegas Sayyid mencari tahu rumah dan keluarga Minah. Kisah yang singkat, Minah pun menerima pinangan Sayyid. Tahun-tahun pertama adalah tahun kebahagiaan kehidupan Minah. Minah berpikir kondisi rumah tangganya akan sama dengan kondisi rumah tangga orang pada umumnya. Mengecapi manisnya kebahagiaan hanya pada tahun-tahun pertama. Tapi tidak, doa Minah di waktu muda setiap usai sembahyang pun terkabul. Hampir dua puluh tahun usia pernikahannya, Minah dan Sayyid masih setia, layaknya pengantin baru. Semua orang iri pada Minah.
            “Mantap suami kau, Minah.”
            “Itu anugerah Tuhan untukku.”
            “Tapi kau mesti lah hati-hati juga, Minah”
            “Kenapa?”
            “Sayyid terlalu tampan.”
Minah waktu itu hanya tersenyum. Ia juga mengakui ketampanan suaminya. Sebab itu lah ia selalu bahagia. Tuhan seolah telah mengirimkan malaikat padanya. Pria yang tampan, baik serta mampu mendidik anak-anak menjadi orang yang bermarwah di kampung.
            “Apa lagi yang kau tunggu, Minah? Pulang lah!”
            “Aku menunggu kapal tenggiri, Wan!”
            “Tenggiri hari ni tak jalan, Minah.”
            “Tak jalan? apa pasal? Kau pasti bohong, Wan!”
            “Aku tak bohong lah, Minah. Sebab tu lah kapal aku tadi penuh.” Kali ini lelaki awak kapal yang dipanggil Wan itu tampak serius. Ia seperti hiba melihat tingkah Minah. Bagaimana pun Minah adalah temannya sedari kecil. Ia tahu bagaimana kisah rumah tangga Minah. Minah terlalu polos, ia lebih percaya pada lelaki yang teramat dicintainya ketimbang sahabat-sahabatnya.
            “Sayyid pasti pulang kan, Wan? Kalau tak hari ni, mungki esok.” Wan tak menjawab. Ia menghulurkan sebuah payung kumal pada perempuan itu.
            “Kau pakai payung ni, Minah. Kau dengan siapa kemari?”
            “Aku sendiri. Tak payah lah Wan, aku suka hujan.”
            “Nanti kau sakit. Aku panggil tukang ojek kemari?”
            “Tak payah, Wan! Aku bawa motor.”
            “Jadi apa yang bisa kubantu?”
            “Tak payah, kau pulang lah! Aku di sini suka hujan.”
            Wan berpikir sejenak, lalu ia pun berlalu. Ia mengayuh motor tuanya menuju rumah Minah, mencari Dullah, putra Minah yang barang kali kelimpungan mencari perempuan itu.
*****
            Berita kepulangan Sayyid telah lebih dulu sampai ke telinga-telinga orang. Minah bahkan tak tahu. Orang-orang di pasar Teluk Belitung yang sibuk bercerita. Minah berusaha menebalkan telinga. Ia memilah ikan tenggiri dengan sedikit menutup telinga.
            “Kak Minah, aku semalam jumpa Bang Sayyid.” Seorang perempuan muda tiba-tiba menepuk pundak Minah.
            “Sayyid? Kau tak bohong? Dimana dia?” Minah tergagap.
            “Kak Minah jangan sedih, ya!”
            “Kenapa? kenapa dengan Sayyid?”
            “Dia bersama Latifah.”
            Ahh, Minah masih tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Tak mungkin, tak mungkin Sayyid bersama Latifah. Latifah dulu pernah berjanji padanya saat sedang makan sepinggan dengan Minah. ‘Kalau pun akan menikah, aku tak mungkin dengan suami orang, Minah. Lagi pula hatiku sudah tawar dengan laki-laki, aku sulit untuk jatuh cinta lagi.’ Itulah ucapan Latifah, Minah mengingat itu selalu.
            “Kau pasti salah orang!”
            “Tidak Kak Minah, itu betul-betul Bang Sayyid. Dia juga menyapaku.”
Tubuh Minah melemas. Beruntung perempuan itu berfisik sehat hingga tak langsung terkulai. Ia bergegas membawa keranjang belanjanya. Ia pulang ke rumah, mungkin Sayyid sudah di rumah, Ya, Minah percaya Sayyid pasti pulang ke rumah, Sayyid pasti ingin bertemu dengannya, barang sejenak saja. Minah cuma ingin bilang, sudah hampir setahun ia menghabiskan waktu di pelabuhan, menunggu kepulangan suaminya itu. Sayyid pasti masih mencintainya, Sayyid pasti masih seperti yang dulu, yang membuat hari-harinya selalu tersenyum. Minah melarikan cepat motornya ke rumah, tak sabar ia ingin melihat Sayyid, ya Sayyid pasti telah menunggunya di rumah. Mungkin Latifah cuma kebetulan bertemu dengan Sayyid, ya mungkin cuma kebetulan.
Minah memarkirkan motornya begitu saja di depan tangga papan rumah panggung itu. Ia tak peduli motor astrea lawas itu nyaris terguling. Ia mempercepat langkahnya menaiki tangga rumah. Didapatinya Dullah duduk termenung.
“Dullah, mana ayahmu? Ayahmu datang kemari kan?” Minah terus bertanya sambil matanya jelalatan hingga ke ruang dapur. Dullah mengangguk tak bersemangat, lelaki berusia belasan tahun itu menatap penuh makna pada sang ibu. Wajahnya seperti menyimpan beban.
“Sayyid pulang, mana dia, Dullah? Kau tak bilang Mak sedang ke pasar?”
“Ayah dah pergi, Mak. Sudah lah Mak tak usah tanya-tanya ayah lagi.”
“Apa maksud kau Dullah? Dia ayahmu, suami Mak.”
“Ayah pulang bukan nak jumpa dengan Mak, dia cuma nak ambil itu.” Dullah menunjuk amplop padi kosong. Mata Minah terbelalak, ia ingat betul isi amplop tersebut.
“Sayyid ambil sertifikat rumah?”
“Ya, Mak. Tak usah lagi Mak harap lelaki tu. Dullah pun dah tak anggap dia ayah Dullah lagi Mak.” Dullah dengan wajah tak sedap berlalu menuruni tangga. Lelaki itu tak menangis, ia hanya menyembunyikan kekesalan dalam wajahnya. Ia pu tak tega menangis di depan ibunya yang tengah gundah gulana. Dullah mengambil motor Minah dan bersegera membawanya pergi.
Azan telah berkumandang, Dullah pergi ke masjid. Minah merapatkan bibirnya, perempuan itu menyimpan tangisnya dalam hati. Mungkin esok hari ia tak akan lagi menyukai hujan. Hujan telah membawa Sayyid hilang bersama kenangan. Ah, biar lah Sayyid sang pecinta itu pergi. Kini ia hanya merasakan kedekatan Sang Maha Cinta itu di hatinya. (Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Cerpen Se- FLP Riau)

Senin, 15 Oktober 2012

Setengah Hari di Ash-Shahwah

ini cerpen kedua saya yang diterbitkan di riau pos tahun 2010
di sepuluh ramadhan terakhir, saat baru pertama belajar menulis

Oleh : Jumardi


            Jam menunjukkan pukul 07:21 pagi. Lampu neon berkapasitas 50 watt yang tergantung tepat di atas tempat tidur sudah aku matikan. Langit, satu jam sebelumnya sudah membuka pintunya. Menampakkan makhluk Tuhan yag ada di belakangnya. Mentari pagi ini begitu cerah. Cahayanya sudah sangat mengalahkan  lampu neon bundar yang masih tergantung di atas tempat biasa aku terlelap itu. Desing motor sudah tidak terhenti lagi berbunyi, bondar bandir orang-orang melewati depan rumahku. Ada yang ke pasar untuk berjualan sayur, buah-buahan, peralatan dapur serta bumbu-bumbu dapur. Ada juga yang pulang ke rumah habis menginap di rumah temannya.
            Seperti biasanya, setiap pagi aku hanya bisa menatap dan memandangi mereka satu persatu sambil menikmati suara-suara bising kendaraan mereka yang tidak mengenakkan itu.  Kadang aku juga ikut tersenyum bangga melihat anak-anak SD yang sedang berangkat ke sekolah. Anak-anak itu begitu santun, setiap kali mereka lewat pasti aku akan mendengar lagu-lagu anak yang mereka nyanyikan secara serentak. Sangat lucu dan menghiburku di pagi ini. Sesekali anak-anak itu menyapaku,
 Assalamualaikum, Pagi Om”, kata mereka serentak tatkala melihat aku tersenyum memandangi mereka.
 Waalaikum salam, Belajar yang rajin…ya”, jawabku spontan.
 Ya.. Om”, jawab mereka lagi. Begitulah setiap hari, setiap pagi, setiap jam-jam anak-anak itu berangkat ke sekolah.
Sepuluh anak itu sangat akrab sekali. Mereka selalu menampakkan kekompakkannya. Padahal mereka tidak ada satupun yang satu sekolah, semuanya sekolah di tempat yang berbeda-beda dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Orang-orang tua dari sepuluh anak itu sudah lama meninggal dunia, sewaktu mereka masih kecil, berumur 2 tahun. Mereka semuanya diasuh dan dibesarkan di lungkungan Panti Asuhan Ash-Shahwah Pekanbaru. Mereka di besarkan di Panti itu oleh seorang Ibu yag sudah tua, Ibu Herlena namanya. Dia seorang ibu janda yang tidak mempunyai anak. Sudah 20 tahun ia ditinggalkan suaminya ke negeri akhirat. Diumurnya yang sudah lewat setengah abad itu sama sekali tidak memupuskan semangatnya mendidik dan membesarkan anak-anak panti asuhan Ash-Shahwah. Panti itu adalah panti peninggalan  almarhum suaminya. Sempat selam 3 tahun ia bersama almarhum suaminya mengelola panti itu. Tapi itulah takdirnya, setelah itu suaminya meninggalkannya untuk selamanya.
Selama 23 tahun, selama panti itu berdiri, sudah lebih dari 500 anak yatim piatu di sekolahkan oleh ibu Herlina. Ibu Her, itulah panggilanku untuk ibu yang luar biasa itu, dia pernah bilang kepadaku “Ibu ingin menyekolahkan 1000 anak yatim selama hidup ibu” katanya dengan penuh semangat dan optimis ketika itu.
Itulah ibu Her, Ibu tua kurus yang rambutnya dipenuhi uban itu, tak pernah pupus semangatnya.
***
            Sepuluh anak itu, Iki, Lara, Sita, Bambo, Andi, Suma, Dara, Fikri, Asa, dan Dama. Mereka sangat bersemangat dan selalu optimis dalam menempuh hidup mereka. Sikap itulah yang diajarkan bu Her setiap hari, sebelum mereka berangkat ke sekolah. Mereka setiap pagi bu Her kumpulkan di lapangan Panti dan memberikan motivasi hidup untuk mereka. Walaupun suara itu pelan, pelan sekali, tapi menyentuh ke hati.
            “Hidup ini tantangan, perjuangan, dan kesabaran. Tantangan itu hanya dapat dilalui dengan perjuangan yag diiringi dengan kesabaran.”
            “Percayalah pada Tuhan. Dengan kepercayaan itulah seharusnya kalian menjalani hidup.”
            Mereka, sengaja bu Her sekolahkan di tempat yang berbeda-beda. Iki di SD 01, Lara di SD 02, Sita di SD 03, Bambo di SD 04, Andi di SD 05, Suma di SD 06, Dara SD 07, Fikri di SD 08, Asa di SD 09, dan Dama di SD 010.
            “Agar mereka lebih mandiri dan saling berbagi pengalaman,” kata bu Her
            Walaupun mereka berada di sekolah yang berbeda satu sama lain, tetapi mereka berangkat ke sekolah tetap bersama dan pulang bersama. Kalau ada diantara mereka yang pulangnya pada waktu yang berbeda, yang pulang duluan harus menunggu teman yang lain di simpang jalan menuju Panti. Baru setelah lengkap 10 orang mereka pulang ke panti. Dalam keadaan menunggu, pasti mereka gunakan untuk membaca buku yang dibekali bu Her kepada mereka masing-masing.

***
            Jam sudah menunjukan pukul 08:00 pagi. Suara desing motor-motor itu masih saja mengusik telingaku. Mungkin inilah konsekuensi karena aku tinggal di pinggiran jalan raya kota.
            Tak lama setelah anak-anak itu berangkat. Tampaklah seorang ibu, lebih tepatnya seorang nenek tua, yang umurnya sudah lebih dari setengah abad, berjalan mendorong gerobak tuanya . Ibu itu tampak segar dan kuat. Walaupun sesekali tampak ia menghela napas, berat sekali. Sehingga ia harus berhenti mendorong gerobaknya sejenak, sekedar menghirup udara untuk bernapas, sepertinya ibu itu sudah lama menderita asma. Tapi semangat yang terlihat dari wajah keriputnya itulah yang membuatnya kuat mendorong gerobak tuanya itu yang penuh dengan sayur-sayuran yang ditanamnya sendiri di kebun pantinya.
            Dialah Ibu Herlina, dan itulah usahanya, berjualan sayur keliling demi menghidupi dan mencapai cita-citanya, “Menyekolahkan 1000 anak yatim selama hidupnya”.
***

            Jam menunjukkan pukul 11:00 WIB. Matahari semakin meninggi, hampir di atas kepalaku, tegak menyinari bumi. Cahayanya menghangatkan bahkan membuat suhu sangat panas. Rumah-rumah sudah menyalakan AC atau kipas anginnya. Jam 11 waktunya anak-anak panti asuhan Ash-Shahwah pulang dari sekolah mereka masing-masing.
            Panti berukuran 15 X 4 meter itu tampak tenang dan menyejukkan. Di depannya terdapat lapangan seluas 7 X 5 meter yang dihiasi dengan bunga dan sayur-sayuran. Kebun sekaligus tempat bermain anak-anak panti. Setiap hari libur sekolah, bu Her mengajarkan anak-anak itu menanam sayur dan bunga hias.
            Suasana sejuk di panti yang dicat warna-warni itu menandakan di dalamnya penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Disanalah tempat bu Her mengajarka anak-anak asuhnya mengaji, membaca, menulis, mengajari sholat, puasa, dan kultum.
            Seperti biasa, Aku selalu menunggu anak-anak panti pulang dari sekolah mereka masing-masing. Mengharapkan sapaan santun mereka dan menunjukkan senyum manisku untuk mereka. Begitu juga dengan bu Her, dia sudah siap-siap menunggu anak-anak asuhnya itu di depan panti, menyiapkan senyuman termanisnya serta kasih sayangnya.
            Setiap hari kami rela menunggu berlama-lama hanya sekedar memberikan senyuman termanis kami. Setiap hari. Tapi mengapa orang-orang di sini malah menertawakan kami, atau kasihan melihat keadaan kami?, mungkinkah karena suara serunai ambulan 2 tahun lalu, datang ke panti ini membawa 10 mayat anak-anak yang tidak lagi dapat kami kenal karena terbakar? Sungguh kejam para penjajah laknatullah yang tega mengebom sekolah-sekolah mereka.