Oleh: Nafi`ah Al-Ma`rab

Perempuan
separuh baya itu memamahkan dirinya pada hujan. Ia terus saja berdiri
memandangi gelombang laut berwarna coklat. Rautnya telah menua, meski tak setua
usianya. Jujur ada gurat-gurat ayu yang masih tersisa di wajahnya, tapi
sepertinya kian hari kian memudar. Luka di hatinya adalah bara yang selalu
mematikan senyumnnya di setiap pagi. Minah telah sejak tadi berdiri mendekap
tiang pelabuhan. Sejak hujan mulai turun rintik-rintik pagi ini. Matanya tak
bergeser menatap deretan kayu punak yang berbaris setinggi dua kali ukuran
manusia. Maklum lah air sedang surut, pancik pelabuhan menjadi lebih tinggi
dari biasanya. Perempuan-perempuan muda harus berteriak-teriak minta tolong
awak kapal saat akan naik ke pelabuhan. Minah terus saja memandangi deretan
penumpang yang baru turun dari kapal keritang. Matanya kuyu, jilbab kusamnya
tetap terbalut rapi di kepalanya. Baju katunnya sedikit basah, tapi sepertinya
ia tak peduli dengan kondisinya. Ia tetap berdiri memeluk tiang pelabuhan.
Menatapi wajah-wajah oriental yang melintasinya.
Satu
dua orang memperhatikannya. Mungkin saja hati mereka merasa sedikit aneh
menatap Minah. Tapi wajah-wajah itu tak ambil pusing. Bukan urusan, mereka
tentu lebih terfokus pada urusan masing-masing. Mungkin saja mereka berpikir
Minah adalah pengemis pelabuhan Teluk Belitung, Meranti. Tidak, Minah adalah
wanita tegar, dia tak pernah mengemis kepada siapa pun. Berhari-hari ia di
pelabuhan hanya untuk menepati janji setianya. Sayyid, suami tercintanya telah menorehkan
luka terdalam. Tapi Minah betul-betul wanita baik, ia terus di situ untuk
menunggu.
“Wan, ada kau nampak Sayyid?” Minah
mengalihkan pandangannya pada seorang awak kapal yang tengah keberatan
mengangkat barang penumpang.
“Sayyid?” yang disapa hanya
menaikkan alis.
“Wan, dimana kau jumpa Sayyid? Sudah
sampai mana dia? sampai Semukut kan, Wan?” Minah terus saja bersuara. Lagi-lagi
yang disapa tak menggubris. Beberapa penumpang terlihat aneh menatap Minah. Ada
dua tiga wajah berbisik, ada pula yang tertawa. Raut muka Minah memuram.
“Wan, aku tanya kau lah. Ada kau
jumpa, Sayyid?”
“Sayyid dah meninggal. Tak usah lagi
kau tunggu dia, Minah.” Lelaki itu menjawab asal sambil tak menoleh. Ia lebih
sibuk menagih uang lima ribu kepada penumpang untuk sewa upah barang.
“Kau jangan asal bicara, Wan! Sayyid
akan pulang ke rumah. Dia pasti pulang. Jangan sembarangan kau cakap!”
“Kalau kau tak percaya, tunggu saja
sampai kiamat di pelabuhan. Sayyid tak akan pulang, Minah!” Lelaki itu tak mau
kalah. Matanya sesekali menatap Minah sambil tangannya lincah menghitung
lembaran lima ribu.
Minah kembali berbalut duka. Sayyid
adalah suami tercinta. Ia pergi bak ditelah bumi. Orang-orang bilang Sayyid
pergi bersama Latifah, sahabat karib Minah semenjak kecil. Tapi Minah perempuan
yang terlalu baik. Ia tak pernah percaya pada kabar burung yang diisukan
tetangga. Ia lebih percaya pada jantung hatinya. Lelaki yang selama dua puluh
tahun usia pernikahannya tak pernah membuatnya menangis. Mungkin kedengarannya
terlalu mengada-ada. Tapi itulah yang dirasakan Minah.
Sayyid
lelaki terbaik di dunia. Suami yang mengerti kesibukan istri. Bila Minah sedang
menakik karet di belakang rumah, Sayyid lah yang memasak di dapur. Bila Minah
kesiangan bangun tidur, Sayyid telah siap dengan dua pinggan nasi goreng di
tangannya. Tak ada yang kurang pada Sayyid. Dia lah pria sempurna yang
diturunkan Tuhan untuk Minah. Minah terlalu mencintai Sayyid.
Minah menepis air hujan yang
menyinggahi bulu matanya. Bajunya telah kuyup. Tangannya pun memeras kain katun
itu hingga mengucur lah air segelas kecil. Minah tak pedulikan hujan. Mungkin
Sayyid memang tak datang dengan kapal keritang, tapi mungkin ia akan datang
dengan kapal tenggiri, dua jam lagi. Hujan terus merentasi pelabuhan. Daratan tampak
meluas. Pantai itu tak biru, tapi kecoklatan. Puluhan ekor burung walet
berterbangan melintasi Minah. Perempuan itu sesekali tersenyum menatap burung
walet. Teringat kisah cintanya yang bermula dari rumah ternak burung walet
bersama Sayyid.
Sayyid
dulu punya usaha rumah burung walet, sewaktu mudanya. Tak sengaja Minah
melintasi rumah itu saat Sayyid tengah berdiri di depan rumah. Putik cinta pun
bersemi. Bergegas Sayyid mencari tahu rumah dan keluarga Minah. Kisah yang
singkat, Minah pun menerima pinangan Sayyid. Tahun-tahun pertama adalah tahun
kebahagiaan kehidupan Minah. Minah berpikir kondisi rumah tangganya akan sama
dengan kondisi rumah tangga orang pada umumnya. Mengecapi manisnya kebahagiaan
hanya pada tahun-tahun pertama. Tapi tidak, doa Minah di waktu muda setiap usai
sembahyang pun terkabul. Hampir dua puluh tahun usia pernikahannya, Minah dan
Sayyid masih setia, layaknya pengantin baru. Semua orang iri pada Minah.
“Mantap suami kau, Minah.”
“Itu anugerah Tuhan untukku.”
“Tapi kau mesti lah hati-hati juga,
Minah”
“Kenapa?”
“Sayyid terlalu tampan.”
Minah
waktu itu hanya tersenyum. Ia juga mengakui ketampanan suaminya. Sebab itu lah
ia selalu bahagia. Tuhan seolah telah mengirimkan malaikat padanya. Pria yang
tampan, baik serta mampu mendidik anak-anak menjadi orang yang bermarwah di
kampung.
“Apa lagi yang kau tunggu, Minah?
Pulang lah!”
“Aku menunggu kapal tenggiri, Wan!”
“Tenggiri hari ni tak jalan, Minah.”
“Tak jalan? apa pasal? Kau pasti
bohong, Wan!”
“Aku tak bohong lah, Minah. Sebab tu
lah kapal aku tadi penuh.” Kali ini lelaki awak kapal yang dipanggil Wan itu
tampak serius. Ia seperti hiba melihat tingkah Minah. Bagaimana pun Minah
adalah temannya sedari kecil. Ia tahu bagaimana kisah rumah tangga Minah. Minah
terlalu polos, ia lebih percaya pada lelaki yang teramat dicintainya ketimbang
sahabat-sahabatnya.
“Sayyid pasti pulang kan, Wan? Kalau
tak hari ni, mungki esok.” Wan tak menjawab. Ia menghulurkan sebuah payung
kumal pada perempuan itu.
“Kau pakai payung ni, Minah. Kau
dengan siapa kemari?”
“Aku sendiri. Tak payah lah Wan, aku
suka hujan.”
“Nanti kau sakit. Aku panggil tukang
ojek kemari?”
“Tak payah, Wan! Aku bawa motor.”
“Jadi apa yang bisa kubantu?”
“Tak payah, kau pulang lah! Aku di
sini suka hujan.”
Wan berpikir sejenak, lalu ia pun
berlalu. Ia mengayuh motor tuanya menuju rumah Minah, mencari Dullah, putra
Minah yang barang kali kelimpungan mencari perempuan itu.
*****
Berita kepulangan Sayyid telah lebih
dulu sampai ke telinga-telinga orang. Minah bahkan tak tahu. Orang-orang di
pasar Teluk Belitung yang sibuk bercerita. Minah berusaha menebalkan telinga.
Ia memilah ikan tenggiri dengan sedikit menutup telinga.
“Kak Minah, aku semalam jumpa Bang
Sayyid.” Seorang perempuan muda tiba-tiba menepuk pundak Minah.
“Sayyid? Kau tak bohong? Dimana
dia?” Minah tergagap.
“Kak Minah jangan sedih, ya!”
“Kenapa? kenapa dengan Sayyid?”
“Dia bersama Latifah.”
Ahh, Minah masih tak percaya. Ia
menggeleng-gelengkan kepala. Tak mungkin, tak mungkin Sayyid bersama Latifah.
Latifah dulu pernah berjanji padanya saat sedang makan sepinggan dengan Minah.
‘Kalau pun akan menikah, aku tak mungkin dengan suami orang, Minah. Lagi pula
hatiku sudah tawar dengan laki-laki, aku sulit untuk jatuh cinta lagi.’ Itulah
ucapan Latifah, Minah mengingat itu selalu.
“Kau pasti salah orang!”
“Tidak Kak Minah, itu betul-betul
Bang Sayyid. Dia juga menyapaku.”
Tubuh
Minah melemas. Beruntung perempuan itu berfisik sehat hingga tak langsung
terkulai. Ia bergegas membawa keranjang belanjanya. Ia pulang ke rumah, mungkin
Sayyid sudah di rumah, Ya, Minah percaya Sayyid pasti pulang ke rumah, Sayyid
pasti ingin bertemu dengannya, barang sejenak saja. Minah cuma ingin bilang,
sudah hampir setahun ia menghabiskan waktu di pelabuhan, menunggu kepulangan
suaminya itu. Sayyid pasti masih mencintainya, Sayyid pasti masih seperti yang
dulu, yang membuat hari-harinya selalu tersenyum. Minah melarikan cepat
motornya ke rumah, tak sabar ia ingin melihat Sayyid, ya Sayyid pasti telah
menunggunya di rumah. Mungkin Latifah cuma kebetulan bertemu dengan Sayyid, ya
mungkin cuma kebetulan.
Minah
memarkirkan motornya begitu saja di depan tangga papan rumah panggung itu. Ia
tak peduli motor astrea lawas itu nyaris terguling. Ia mempercepat langkahnya
menaiki tangga rumah. Didapatinya Dullah duduk termenung.
“Dullah,
mana ayahmu? Ayahmu datang kemari kan?” Minah terus bertanya sambil matanya
jelalatan hingga ke ruang dapur. Dullah mengangguk tak bersemangat, lelaki
berusia belasan tahun itu menatap penuh makna pada sang ibu. Wajahnya seperti
menyimpan beban.
“Sayyid
pulang, mana dia, Dullah? Kau tak bilang Mak sedang ke pasar?”
“Ayah
dah pergi, Mak. Sudah lah Mak tak usah tanya-tanya ayah lagi.”
“Apa
maksud kau Dullah? Dia ayahmu, suami Mak.”
“Ayah
pulang bukan nak jumpa dengan Mak, dia cuma nak ambil itu.” Dullah menunjuk
amplop padi kosong. Mata Minah terbelalak, ia ingat betul isi amplop tersebut.
“Sayyid
ambil sertifikat rumah?”
“Ya,
Mak. Tak usah lagi Mak harap lelaki tu. Dullah pun dah tak anggap dia ayah Dullah
lagi Mak.” Dullah dengan wajah tak sedap berlalu menuruni tangga. Lelaki itu
tak menangis, ia hanya menyembunyikan kekesalan dalam wajahnya. Ia pu tak tega
menangis di depan ibunya yang tengah gundah gulana. Dullah mengambil motor
Minah dan bersegera membawanya pergi.
Azan
telah berkumandang, Dullah pergi ke masjid. Minah merapatkan bibirnya,
perempuan itu menyimpan tangisnya dalam hati. Mungkin esok hari ia tak akan
lagi menyukai hujan. Hujan telah membawa Sayyid hilang bersama kenangan. Ah,
biar lah Sayyid sang pecinta itu pergi. Kini ia hanya merasakan kedekatan Sang
Maha Cinta itu di hatinya. (Cerpen
Pemenang Lomba Penulisan Cerpen Se- FLP Riau)