Tentang motivasi
Dia memberikan
motivasi kepada banyak orang. Motivasi untuk bisa memberikan banyak manfaat
kepada orang lain. Seseorang yang mendapatkan motivasi itu. Maka pada waktu
itulah mencoba memberikan manfaat melalui tulisan kepada orang lain.
Jauh sebelum
itu, motivasi-motivasi memberi banyak manfaat kepada orang lain dimulai karena
motivasi membaca. Membacalah yang memotivasi untuk menulis, karena menulis
adalah menyuruh orang lain membaca. Jika saja tulisan tidak memotivasi orang
untuk membaca, siapakah yang akan mau membaca tulisan? Maka memang jauh sebelum
itu harus ada—bahkan setiap tulisan yang ditulis oleh penulis—yang memotivasi,
yang menggerakkan orang lain untuk membaca.
Tentang
kemauan, bukan pengetahuan
Oleh karena
tergerak oleh motivasi itu, tahun 1999 para santri diseleksi untuk membacakan
puisi pada perhelatan maulid nabi Muhammad saw. Sebenarnya selain membacakan
puisi ada juga berpidato dan qosidah. Tapi membacakan puisi merupakan hal yang
jarang ditemui pada perhelatan yang diadakan setiap tahun itu. Dipilihlah
beberapa santri ikhwan untuk membacakan puisi di depan guru penyeleksi. Para
santri maju membacakan puisi semampunya secara bergiliran. Mereka belum pernah
sama sekali membacakan puisi di depan manapun, termasuk di depan cermin
sekalipun. Mereka membaca seadanya saja karena guru penyeleksi hanya melihat
potensi membaca puisi pada diri santri.
Setelah penyeleksian
selesai dipilihlah seorang santri untuk membacakan puisi pada perhelatan Maulid
Nabi Muhammad saw di depan para hadirin. Santri itu pun pada setiap perhelatan
akbar pesantren ikut membacakan puisi di depan hadirin, isra` mi`raj, maulid
nabi, hingga perhelatan lomba antar sekolah. Santri itu sepertinya dipercaya
dan dinobatkan sebagai penyair cilik setelah memenangkan lomba membaca puisi.
Saat itu ia membacakan puisi Chairil Anwar yang berjudul pahlawan.
Demikianlah
akhirnya santri itu selalu membacakan puisi-puisi. Sayangnya ia belum pernah
membacakan puisinya sendiri. Kenapa ia tidak membacakan puisinya sendiri saja?
Ia mulai berpikir untuk membuat puisi sendiri dan akan membacakannya pada
perhelatan-perhelatan yang diadakan pesantren. Walaupun ia belum tahu apa-apa
tentang puisi, tapi puisinya berhasil membuat kagum pendengarnya ketika itu.
Terbukti para pendengarnya terkecak kagum dan bertepuk tangan riuh setiap ia
selesai membacakan puisi.
Tentang menyembunyikan
malu
Tahun 2005 ia
meninggalkan kampung halamannya melanjutkan pendidikan Aliyah. Di sekolah
barunya ini menyediakan waktu berekspresi bagi siswa untuk berpuisi. Tentu saja
si santri yang pemalu itu tidak menyiakan kesempatan ini untuk menyatakan
hasrat kata-katanya. Sebenarnya ia tidak membacakan puisi untuk mengeksperikan
kata-kata, tapi untuk mengatakan kepada seorang siswi yang diidolakan tentang
hasrat hatinya. Ia pun mengarang puisi dan membacakannya di depan ratusan siswa
dan para majlis guru. Sampai saat itu pun ia tidak tahu apa itu puisi. Namun
ternyata puisinya itu menjadi perekat senyum manis sang idola. Juga
menjadikannya dipercaya sebagai penyair komunitas teater pada perhelatan Pekan
Penghijauan Nasional. Ia mulai yakin bahwa puisi adalah rumah barunya
menyembunyikan malu.
Tentang
penunjukkan keinginan kuat
Beberapa tahun
berikutnya ia mengikuti komunitas menulis. Tentang puisi belum juga ia temukan
apa maknanya dan cara membuatnya. Santri pemalu itu hanya ingin mengarang tanpa
ilmu dan tanpa tahu. Ia bergerak berdasarkan keinginan kuat. Mentornya
memberikan alamat email untuk dikirimi puisi. Tanpa ilmu dan tahu si santri
mengarang banyak puisi setiap harinya. Ia mecoba membuka memorinya tentang puisi-puisi yang pernah dibacanya. Ia
pun mulai mengikuti kata-kata puisinya kepada bahasa lama, bersyahdu-syahdu
ria.
Setiap ia
mengirimi puisi ke suatu media, ia selalu menanyakan ke redakturnya bagaimana
menulis puisi yang baik dan benar dan sesuai selera. Sekaligus ia juga meminta
komentar tentang puisi-puisi yang ia kirim. Ia pun mendapati bahwa puisi-puisi
yang dikiriminya itu berdiksi lemah, miskin kata-kata, dan tidak nyambung
antara kalimat satu dengan kalimat lainnya.
Hari-hari
berikutnya ia terus mencoba mengarang, mengirim, dan meminta pendapat kepada
redaktur. Setiap itulah ia mulai yakin kalau puisinya mulai diminati redaktur
dan akhirnya puisinya diterbitkan dengan komentar diksi yang masih lemah dan
miskin kata-kata. Lihat dan bacalah karya temanmu yang sudah terbit kata
redakturnya suatu ketika. Aha, ia baru tersadar bahwa memang selama ini ia
tidak membaca karya orang lain.
Tentang adopsi
karya
Pada kesempatan
berikutnya ia memulai puisinya dengan membaca puisi-puisi pengarang terkenal,
mengambil arah dan diksi puisinya. Ia lalu mengadopsinya, mengambil alurnya
dengan merubah kata-kata dan temanya. Terbukti dengan cara itu puisinya terbit
dan diberi komentar ada kemajuan diksi.
Tentang
merangkai kata dalam cerita
Mengarang
puisi memang tidak banyak menggunakan kata-kata. Ia hanya butuh beberapa makna
untuk disatukan dalam bait. Tapi ia ingin belajar banyak merangkai kata-kata.
Ia ingin mulai menulis cerpen.
Di beberapa
seminar kepenulisan yang ia ikuti, ia sering mendapatkan bahwa untuk memulai
menulis cerita dan agar ia menjadi mudah, menulis saja cerita pengalaman
pribadi. Si santri sepertinya tertarik dengan petunjuk ini. Ia pun memulainya
dengan menceritakan pengalaman pribadinya, saat ia mulai sekolah di pesantren,
tentang kisah-kisah yang menginspirasi hidupnya. Dan memang terbukti, redaktur
cerpen menyukai ceritanya dengan komentar baik, walau harus belajar lagi
bagaimana cara bertutur dan mengakhiri cerita.
Tentang
Menilai karya
Santri dalam
perhelatan kepenulisan dan karya-karya yang diterbitkan oleh redakturnya selalu
mendapatkan nilai dan apresiasi. Mengapa aku tidak mencoba memberikan penilaian
karya orang lain melalu esai dan resensi? Ia memulai mencoba model lain dalam
berkarya.
Saat itu ia
sudah menyenangi buku, banyak buku baru yang dibelinya setiap bulan. Ia mencoba
meresensi buku-buku itu satu persatu dan mengirimnya ke media. Ia memang belum
pernah mendapatkan ilmu bagaimana cara meresensi buku yang baik. Maka ia dalam
setiap resensinya dikirim menanyakannya kepada redaktur resensi tentang
bagaimana meresensi yang baik dan benar. Ia tidak mendapatkan jawaban selain
ditunjukan beberapa resensi yang diterbitkan hasil resensinya. Begitulah
meresensi seperti yang telah diterbitkan, kata redakturnya. Di lain waktu
berikutnya ia hanya mengambil isyarat bagaimana meresensi buku yang baik dan
benar serta sesuai selera dari jawaban redaktur tersebut. Si santri belajar
dari prasangka dan terus berkarya dengan selalu mengirimnya ke redaktur. Ia
hanya berpikir bahwa menulis saja, karena model menulis itu tidak baku dan
terserah penulis. Penulis hanya bertugas memberikan kata-kata yang enak dibaca
dan mudah dipahami, selanjutnya terserah selera redaktur. Kalau diterbitkan
berarti itulah selera redaktur, dan kalau tidak diterbitkan berarti redaktur
tidak berselera. Pada saat itulah penulis mencoba model lain dan belajar dari
karya yang telah diterbitkan redaktur dan mengikutinya.
Sejatinya bagi
si santri menulis resensi tidak jauh beda dengan menulis esai dan artikel.
Menulis esai baginya adalah memberikan penilaian terhadap karya orang lain,
apakah itu memberikan apresiasi atau pun memberikan kritik dan saran. Namun
menulis esai berarti penulis harus menyiapkan data ilmiah sebagai penunjang
tulisan esai. Maklum karena esai dilihat lebih elit dari karya tulis lainya.
Ini terkait pembaharuan karya sastra atau memberikan penilaian karya pengarang
yang sudah mapan.
Menulis esai
mengharuskan penulisnya berkelana ke dunia literasi nyata dan maya,
mengumpulkan data terkait sebagai data pembanding bagi karya pengarang yang
akan diberikan apresiasi atau penilaian. Setelah dikumpulkan barulah penulis
esai merangkai kata, apakah dimulai dengan membandingkan, mengapresiasi, atau
pun memberikan gambaran umum karya sastra yang berkembang terkait tema yang
diangkat dalam esai.
Si santri
sepertinya harus mulai serius mendalami karya sastra, membaca sastra-sastra
yang berkembang dan yang lama. Membaca dan menandai perkembangan karya sastra,
mana yang tetap dijaga dan mana yang hilang dan dilupakan. Termasuk mana karya
sastra yang banyak memberikan manfaat kepada banyak orang dan mana yang tidak
memberikan banyak manfaat. Si santri harus memberikan ide segar untuk menutupi
kelemahan karya sastra lama, dan memberikan penekanan untuk karya sastra yang
harus dijaga dan abadikan.
Tentang
menjaga karya agar terus berkarya
Setiap manusia
adakalanya berada pada titik lemahnya. Ia kehilangan mood dan malas
menulis. Apalagi menulis adalah hal tersulit bagi yang kekurangan tekad. Atau
yang berkurang waktu luangnya karena kesibukan bekerja dan beraktifitas yang
tidak menulis. Maka si santri harus mencari jalan atau mempunyai stok tekad dan
alasan agar terus termotivasi menulis.
Kata orang
kalau kita tidak memiliki sesuatu, maka kita tidak bisa memberikan sesuatu.
Atau kalau kata yang lain jangan sampai karena semangatnya menebang pohon tapi
lupa mengasah kampak. Maka, penebang pohon adalah pengasah kampak, dokter
adalah penjaga kesehatan, dan penulis adalah pembaca.
Dengan banyak
dan terus membaca, pasti lah inspirasi menulis akan mengalir. Maka wajar setiap
kita menemukan orang sedang membaca buku dia bilang saya ingin menulis seperti
buku yang saya baca ini. Tapi tentu saja tanpa action menulis satu untai kata
tak akan tergores. Jadi kesimpulannya kata si santri setelah mendapati
banyaknya keluhan berhentinya aktifitas menulis adalah tetaplah menulis, tulis
saja yang mau ditulis untuk mengasah daya peka menulis. Kalau tidak mau
berhenti menulis, maka menulislah terus. Selalu cari alasan untuk menulis walau
alasan itu hingga beribu dan berjuta-juta. Hingga kita tidak menemukan lagi
alasan untuk tidak menulis. Karena menulis bukanlah keinginan, tekad, keahlian,
hobi, dan niat baik lainnya, tapi menulis adalah merangkai kata menjadi
kalimat, bukan merangkai ucap pada niat yang tidak berujung amal.
Tentang akhir
tulisan ini
Tulisan mencirikan penulisnya. Si
santri bermotto jadilah orang baik yang serba bisa. Maka dalam hal tulis
menulis ini ia ingin menjadi penulis yang tidak terfokus pada satu objek karya.
Ini banyak manfaatnya untuk menjaga produktifitas menulis. Suatu ketika kalau
kita tidak berselera menulis puisi karena sedang tidak puitis, menulis saja
cerpen. Pada kondisi itu pastilah hati ingin bercerita panjang dan orang mau
mendengar curhatan hati kita. Atau sebaliknya suatu ketika kita tidak mood
bercerita karena harus banyak merangkai kata, menulis saja puisi, karena satu
kalimat bahkan satu kata pun adalah puisi. Atau suatu ketika kita baru
jalan-jalan ke toko buku lalu membelinya, tulis saja resensi. Apalagi ketika
teman kita baru menerbitkan buku, pinjam atau beli bukunya (ini selain sebagai
apresiasi kita terhadap karya teman kita, juga sebagai peluang bagi kita
mendapatkan uang dan buku baru dengan menulis resensi) dan resensi segera. Atau
suatu ketika kita mendapati perkembangan karya sastra yang melenceng, jauh
meninggalkan eksistensi sastra, atau kita ingin memberikan apresiasi terhadap
karya teman kita, maka tulis saja esai. Dengan ini si santri tidak akan
kehilangan ide dan tidak punya alasan untuk tidak menulis. Ketahuilah bahwa
setiap alasan untuk tidak menulis, itu karena tidak mendapati apa yang mau
ditulis. Belajarlah semua bentuk karya tulis agar kita terus menulis. Salam
berkarya @@@@
0 komentar:
Posting Komentar