Pages

Rabu, 11 Juni 2014

Beginilah Cara Saya Menulis


Tentang motivasi
Dia memberikan motivasi kepada banyak orang. Motivasi untuk bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Seseorang yang mendapatkan motivasi itu. Maka pada waktu itulah mencoba memberikan manfaat melalui tulisan kepada orang lain.
Jauh sebelum itu, motivasi-motivasi memberi banyak manfaat kepada orang lain dimulai karena motivasi membaca. Membacalah yang memotivasi untuk menulis, karena menulis adalah menyuruh orang lain membaca. Jika saja tulisan tidak memotivasi orang untuk membaca, siapakah yang akan mau membaca tulisan? Maka memang jauh sebelum itu harus ada—bahkan setiap tulisan yang ditulis oleh penulis—yang memotivasi, yang menggerakkan orang lain untuk membaca. 
Tentang kemauan, bukan pengetahuan
Oleh karena tergerak oleh motivasi itu, tahun 1999 para santri diseleksi untuk membacakan puisi pada perhelatan maulid nabi Muhammad saw. Sebenarnya selain membacakan puisi ada juga berpidato dan qosidah. Tapi membacakan puisi merupakan hal yang jarang ditemui pada perhelatan yang diadakan setiap tahun itu. Dipilihlah beberapa santri ikhwan untuk membacakan puisi di depan guru penyeleksi. Para santri maju membacakan puisi semampunya secara bergiliran. Mereka belum pernah sama sekali membacakan puisi di depan manapun, termasuk di depan cermin sekalipun. Mereka membaca seadanya saja karena guru penyeleksi hanya melihat potensi membaca puisi pada diri santri.
Setelah penyeleksian selesai dipilihlah seorang santri untuk membacakan puisi pada perhelatan Maulid Nabi Muhammad saw di depan para hadirin. Santri itu pun pada setiap perhelatan akbar pesantren ikut membacakan puisi di depan hadirin, isra` mi`raj, maulid nabi, hingga perhelatan lomba antar sekolah. Santri itu sepertinya dipercaya dan dinobatkan sebagai penyair cilik setelah memenangkan lomba membaca puisi. Saat itu ia membacakan puisi Chairil Anwar yang berjudul pahlawan.
Demikianlah akhirnya santri itu selalu membacakan puisi-puisi. Sayangnya ia belum pernah membacakan puisinya sendiri. Kenapa ia tidak membacakan puisinya sendiri saja? Ia mulai berpikir untuk membuat puisi sendiri dan akan membacakannya pada perhelatan-perhelatan yang diadakan pesantren. Walaupun ia belum tahu apa-apa tentang puisi, tapi puisinya berhasil membuat kagum pendengarnya ketika itu. Terbukti para pendengarnya terkecak kagum dan bertepuk tangan riuh setiap ia selesai membacakan puisi.
Tentang menyembunyikan malu
Tahun 2005 ia meninggalkan kampung halamannya melanjutkan pendidikan Aliyah. Di sekolah barunya ini menyediakan waktu berekspresi bagi siswa untuk berpuisi. Tentu saja si santri yang pemalu itu tidak menyiakan kesempatan ini untuk menyatakan hasrat kata-katanya. Sebenarnya ia tidak membacakan puisi untuk mengeksperikan kata-kata, tapi untuk mengatakan kepada seorang siswi yang diidolakan tentang hasrat hatinya. Ia pun mengarang puisi dan membacakannya di depan ratusan siswa dan para majlis guru. Sampai saat itu pun ia tidak tahu apa itu puisi. Namun ternyata puisinya itu menjadi perekat senyum manis sang idola. Juga menjadikannya dipercaya sebagai penyair komunitas teater pada perhelatan Pekan Penghijauan Nasional. Ia mulai yakin bahwa puisi adalah rumah barunya menyembunyikan malu.
Tentang penunjukkan keinginan kuat
Beberapa tahun berikutnya ia mengikuti komunitas menulis. Tentang puisi belum juga ia temukan apa maknanya dan cara membuatnya. Santri pemalu itu hanya ingin mengarang tanpa ilmu dan tanpa tahu. Ia bergerak berdasarkan keinginan kuat. Mentornya memberikan alamat email untuk dikirimi puisi. Tanpa ilmu dan tahu si santri mengarang banyak puisi setiap harinya. Ia mecoba membuka memorinya  tentang puisi-puisi yang pernah dibacanya. Ia pun mulai mengikuti kata-kata puisinya kepada bahasa lama, bersyahdu-syahdu ria.
Setiap ia mengirimi puisi ke suatu media, ia selalu menanyakan ke redakturnya bagaimana menulis puisi yang baik dan benar dan sesuai selera. Sekaligus ia juga meminta komentar tentang puisi-puisi yang ia kirim. Ia pun mendapati bahwa puisi-puisi yang dikiriminya itu berdiksi lemah, miskin kata-kata, dan tidak nyambung antara kalimat satu dengan kalimat lainnya.
Hari-hari berikutnya ia terus mencoba mengarang, mengirim, dan meminta pendapat kepada redaktur. Setiap itulah ia mulai yakin kalau puisinya mulai diminati redaktur dan akhirnya puisinya diterbitkan dengan komentar diksi yang masih lemah dan miskin kata-kata. Lihat dan bacalah karya temanmu yang sudah terbit kata redakturnya suatu ketika. Aha, ia baru tersadar bahwa memang selama ini ia tidak membaca karya orang lain.
Tentang adopsi karya
Pada kesempatan berikutnya ia memulai puisinya dengan membaca puisi-puisi pengarang terkenal, mengambil arah dan diksi puisinya. Ia lalu mengadopsinya, mengambil alurnya dengan merubah kata-kata dan temanya. Terbukti dengan cara itu puisinya terbit dan diberi komentar ada kemajuan diksi.
Tentang merangkai kata dalam cerita
Mengarang puisi memang tidak banyak menggunakan kata-kata. Ia hanya butuh beberapa makna untuk disatukan dalam bait. Tapi ia ingin belajar banyak merangkai kata-kata. Ia ingin mulai menulis cerpen.
Di beberapa seminar kepenulisan yang ia ikuti, ia sering mendapatkan bahwa untuk memulai menulis cerita dan agar ia menjadi mudah, menulis saja cerita pengalaman pribadi. Si santri sepertinya tertarik dengan petunjuk ini. Ia pun memulainya dengan menceritakan pengalaman pribadinya, saat ia mulai sekolah di pesantren, tentang kisah-kisah yang menginspirasi hidupnya. Dan memang terbukti, redaktur cerpen menyukai ceritanya dengan komentar baik, walau harus belajar lagi bagaimana cara bertutur dan mengakhiri cerita.
Tentang Menilai karya
Santri dalam perhelatan kepenulisan dan karya-karya yang diterbitkan oleh redakturnya selalu mendapatkan nilai dan apresiasi. Mengapa aku tidak mencoba memberikan penilaian karya orang lain melalu esai dan resensi? Ia memulai mencoba model lain dalam berkarya.
Saat itu ia sudah menyenangi buku, banyak buku baru yang dibelinya setiap bulan. Ia mencoba meresensi buku-buku itu satu persatu dan mengirimnya ke media. Ia memang belum pernah mendapatkan ilmu bagaimana cara meresensi buku yang baik. Maka ia dalam setiap resensinya dikirim menanyakannya kepada redaktur resensi tentang bagaimana meresensi yang baik dan benar. Ia tidak mendapatkan jawaban selain ditunjukan beberapa resensi yang diterbitkan hasil resensinya. Begitulah meresensi seperti yang telah diterbitkan, kata redakturnya. Di lain waktu berikutnya ia hanya mengambil isyarat bagaimana meresensi buku yang baik dan benar serta sesuai selera dari jawaban redaktur tersebut. Si santri belajar dari prasangka dan terus berkarya dengan selalu mengirimnya ke redaktur. Ia hanya berpikir bahwa menulis saja, karena model menulis itu tidak baku dan terserah penulis. Penulis hanya bertugas memberikan kata-kata yang enak dibaca dan mudah dipahami, selanjutnya terserah selera redaktur. Kalau diterbitkan berarti itulah selera redaktur, dan kalau tidak diterbitkan berarti redaktur tidak berselera. Pada saat itulah penulis mencoba model lain dan belajar dari karya yang telah diterbitkan redaktur dan mengikutinya.
Sejatinya bagi si santri menulis resensi tidak jauh beda dengan menulis esai dan artikel. Menulis esai baginya adalah memberikan penilaian terhadap karya orang lain, apakah itu memberikan apresiasi atau pun memberikan kritik dan saran. Namun menulis esai berarti penulis harus menyiapkan data ilmiah sebagai penunjang tulisan esai. Maklum karena esai dilihat lebih elit dari karya tulis lainya. Ini terkait pembaharuan karya sastra atau memberikan penilaian karya pengarang yang sudah mapan.
Menulis esai mengharuskan penulisnya berkelana ke dunia literasi nyata dan maya, mengumpulkan data terkait sebagai data pembanding bagi karya pengarang yang akan diberikan apresiasi atau penilaian. Setelah dikumpulkan barulah penulis esai merangkai kata, apakah dimulai dengan membandingkan, mengapresiasi, atau pun memberikan gambaran umum karya sastra yang berkembang terkait tema yang diangkat dalam esai.
Si santri sepertinya harus mulai serius mendalami karya sastra, membaca sastra-sastra yang berkembang dan yang lama. Membaca dan menandai perkembangan karya sastra, mana yang tetap dijaga dan mana yang hilang dan dilupakan. Termasuk mana karya sastra yang banyak memberikan manfaat kepada banyak orang dan mana yang tidak memberikan banyak manfaat. Si santri harus memberikan ide segar untuk menutupi kelemahan karya sastra lama, dan memberikan penekanan untuk karya sastra yang harus dijaga dan abadikan.
Tentang menjaga karya agar terus berkarya
Setiap manusia adakalanya berada pada titik lemahnya. Ia kehilangan mood dan malas menulis. Apalagi menulis adalah hal tersulit bagi yang kekurangan tekad. Atau yang berkurang waktu luangnya karena kesibukan bekerja dan beraktifitas yang tidak menulis. Maka si santri harus mencari jalan atau mempunyai stok tekad dan alasan agar terus termotivasi menulis.
Kata orang kalau kita tidak memiliki sesuatu, maka kita tidak bisa memberikan sesuatu. Atau kalau kata yang lain jangan sampai karena semangatnya menebang pohon tapi lupa mengasah kampak. Maka, penebang pohon adalah pengasah kampak, dokter adalah penjaga kesehatan, dan penulis adalah pembaca.
Dengan banyak dan terus membaca, pasti lah inspirasi menulis akan mengalir. Maka wajar setiap kita menemukan orang sedang membaca buku dia bilang saya ingin menulis seperti buku yang saya baca ini. Tapi tentu saja tanpa action menulis satu untai kata tak akan tergores. Jadi kesimpulannya kata si santri setelah mendapati banyaknya keluhan berhentinya aktifitas menulis adalah tetaplah menulis, tulis saja yang mau ditulis untuk mengasah daya peka menulis. Kalau tidak mau berhenti menulis, maka menulislah terus. Selalu cari alasan untuk menulis walau alasan itu hingga beribu dan berjuta-juta. Hingga kita tidak menemukan lagi alasan untuk tidak menulis. Karena menulis bukanlah keinginan, tekad, keahlian, hobi, dan niat baik lainnya, tapi menulis adalah merangkai kata menjadi kalimat, bukan merangkai ucap pada niat yang tidak berujung amal.
Tentang akhir tulisan ini
            Tulisan mencirikan penulisnya. Si santri bermotto jadilah orang baik yang serba bisa. Maka dalam hal tulis menulis ini ia ingin menjadi penulis yang tidak terfokus pada satu objek karya. Ini banyak manfaatnya untuk menjaga produktifitas menulis. Suatu ketika kalau kita tidak berselera menulis puisi karena sedang tidak puitis, menulis saja cerpen. Pada kondisi itu pastilah hati ingin bercerita panjang dan orang mau mendengar curhatan hati kita. Atau sebaliknya suatu ketika kita tidak mood bercerita karena harus banyak merangkai kata, menulis saja puisi, karena satu kalimat bahkan satu kata pun adalah puisi. Atau suatu ketika kita baru jalan-jalan ke toko buku lalu membelinya, tulis saja resensi. Apalagi ketika teman kita baru menerbitkan buku, pinjam atau beli bukunya (ini selain sebagai apresiasi kita terhadap karya teman kita, juga sebagai peluang bagi kita mendapatkan uang dan buku baru dengan menulis resensi) dan resensi segera. Atau suatu ketika kita mendapati perkembangan karya sastra yang melenceng, jauh meninggalkan eksistensi sastra, atau kita ingin memberikan apresiasi terhadap karya teman kita, maka tulis saja esai. Dengan ini si santri tidak akan kehilangan ide dan tidak punya alasan untuk tidak menulis. Ketahuilah bahwa setiap alasan untuk tidak menulis, itu karena tidak mendapati apa yang mau ditulis. Belajarlah semua bentuk karya tulis agar kita terus menulis. Salam berkarya @@@@


0 komentar:

Posting Komentar