Diterbitkan di Riau Pos, Ahad, 15 Juni 2014
#Jumardi
Antara Islam, Modernitas, dan
Keindonesiaan adalah ketegangan yang dialami oleh Anis Matta selama ia masuk ke
wilayah politik. Hal tersebut karena masa kecilnya ia habiskan di pesantren.
Pesantren, kata Anis Matta kerap menjadi isolasi sosial agama dari lingkungan
sekitarnya. Dengan semangat penyucian dan pencarian keheningan, kebanyakan
pesantren berada di pinggiran kota. Pesantren seperti orang yang berpaling dan
lari dari kerumunan karena merasa tidak nyaman dengan suatu keramaian.
Pesantren menyingkir ke pinggiran kota karena kota adalah tempatnya hawa nafsu
dan kekotoran.
Itulah yang kemudian menjadi
ketegangan antara Islam dan modernitas, yang menurut Anis Matta tercermin dalam
“politik ruang” pesantren. Ia sengaja menjaga jarak dengan realitas sekeliling
seperti orang berbaju bersih yang enggan ke pasar becek karena khawatir
terciprat lumpur. (halaman 2)
Di pesantren, seringkali
“menyampingkan” modernitas dan berkutat pada ilmu-ilmu “lama”, sehingga banyak
santri yang tamat dari pesantren kemudian merasa asing dengan modernitas dan
keindonesiaan. Mereka gagap dengan teknologi-teknologi canggih yang lagi tren.
Akhirnya mereka “menyingkir” dari dunia seperti itu.
Sejak pengalaman dan
renungan-renungan itu kemudian Anis Matta percaya bahwa Indonesia yang begitu
besar ini membutuhkan “otak besar” untuk memahaminya. Otak yang bisa memahami
segala realitas Indonesia di masa sekarang. Bukan lagi berkutat di satu sisi
dan melupakan sisi yang lain, tapi bagaimana menyatukan semua sisi ilmu
pengetahuan untuk memahami realitas keindonesiaan di masa sekarang yang
melampaui rutinitas keseharian, apalagi di dunia politik.
Itulah
yang melatar belakangi Anis Matta menulis buku berjudul Gelombang ketiga
Indonesia, peta jalan menuju masa depan ini. Buku yang menurut beberapa
kalangan adalah ide besar tokoh muda Indonesia untuk Indonesia. Yang menurut
Yusuf Maulana, seorang kolomnis Islampos, Buku gelombang ketiga adalah Pembacaan
dan refleksi yang sungguh menawan oleh Anis. Ditambah retorika di hadapan kader
dan publik, wacana Gelombang Ketiga seperti menawarkan oase di tengah gurun
kepemimpinan alternatif di tanah air. Mengabaikan kalangan yang biasa apriori
atau sinis pada ide apa pun yang berasal dari PKS, Gelombang Ketiga memiliki
niatan baik untuk menyadarkan rakyat Indonesia—dan khususnya umat Islam—akan
posisinya.
Menariknya,
pembacaan sejarah Anis bukan untuk meromantisasi kejayaan. Bukan pula demi
menghadirkan apologi untuk membesar-besarkan diri. Tampaknya, fakta-fakta
kebesaran dan kekurangan masa lalu politik Islam dicukupkan pada gagasan visi
hari esok. Anis lebih ingin menoleh masa depan gemilang ketimbang kejayaan hari
kemarin.
Membaca buku ini, kita akan disuguhi tiga bagian inti dan
dua bagian pelengkap. Bagian pelengkap terdiri atas Prolog di awal buku, dan
Epilog di akhir tulisan. Prolog berfungsi untuk membangun framing atau penjelasan singkat awal atas isi buku yang akan
dipaparkan. Sedangkan Epilog berfungsi untuk menegaskan kembali akan sarat
makna dalam buku yang telah selesai dibaca. Pada bagian intinya, kita akan
diajak untuk menyelami Indonesia pada Gelombang Pertama, lalu Indonesia pada
Gelombang Kedua, dan pada akhirnya sampai di Indonesia Gelombang Ketiga.
Semuanya bersatu padu, menawarkan rasa keoptimisan untuk Indonesia di masa
depan.
Gelombang pertama yaitu menjadi Indonesia. Pada tahap ini
Anis Matta menceritakan bagaimana rakyat Indonesia sebelum kemerdekaan
terkotak-kotak oleh kerajaan-kerajaan kecil,terkotak oleh suku dan ras.
Akhirnya karena semua merasakan tidak enaknya berada dalam penjajahan timbul
inisiatif untuk bersatu menjadi satu kesatuan melawan penjajah. Hal ini
terlihat dari terbentuknya Soempah Pemoeda dan Boedi Outomo.
Setelah kemerdekaan, timbul polemik bagaimana menyusun
pemerintahan yang modern. Inilah yang disebut Anis dengan gelombang kedua
Indonesia, yaitu menjadi negara-bangsa modern. Dimana di sini terjadi
pergulatan mencari sistem yang kompatibel dengan sejarah dan referensi budaya
Indonesia setelah merdeka dari penajajah. Tahap ini berlangsung pada era orde
lama hingga era reformasi.
Setelah itu Indonesia masuk ke dalam gelombang ketiga,
yaitu masyarakat baru Indonesia. Kalau pada gelombang pertama dan kedua sejarah
Indonesia banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, pada gelombang
ketiga ini banyak dipengaruhi oleh factor-faktor internal, yaitu perubahan
komposisi demografi dan budaya.
Karakteristik masyarakat baru Indonesia ini yaitu; kelas
menengah baru yang dibentuk oleh orang berusia 45 tahun ke bawah, berpendidikan
cukup tinggi, kesejahteraan semakin membaik, terhubung dengan lingkungan global
melalui internet, dan lahirnya kelompok “native
democracy”. Pada gelombang ketiga yang menurut Anis Matta sedang kita
masuki ini, siapa pun yang menjadi pemimpinnya ke depan harus bisa berdampingan
dengan realitas demografi Indonesia sekarang. Ia harus bisa menguasai teknologi
agar bisa berdampingan dengan demografi gelombang ketiga ini.
Judul : Gelombang Ketiga Indonesia, Peta Jalan Menuju Masa depan
Penulis :
Anis Matta
Penerbit :
The Future Institute, Jakarta
Cetakan :
Pertama, Maret 2014
Tebal :
128 halaman

0 komentar:
Posting Komentar