Pages

Senin, 15 Oktober 2012

Setengah Hari di Ash-Shahwah

ini cerpen kedua saya yang diterbitkan di riau pos tahun 2010
di sepuluh ramadhan terakhir, saat baru pertama belajar menulis

Oleh : Jumardi


            Jam menunjukkan pukul 07:21 pagi. Lampu neon berkapasitas 50 watt yang tergantung tepat di atas tempat tidur sudah aku matikan. Langit, satu jam sebelumnya sudah membuka pintunya. Menampakkan makhluk Tuhan yag ada di belakangnya. Mentari pagi ini begitu cerah. Cahayanya sudah sangat mengalahkan  lampu neon bundar yang masih tergantung di atas tempat biasa aku terlelap itu. Desing motor sudah tidak terhenti lagi berbunyi, bondar bandir orang-orang melewati depan rumahku. Ada yang ke pasar untuk berjualan sayur, buah-buahan, peralatan dapur serta bumbu-bumbu dapur. Ada juga yang pulang ke rumah habis menginap di rumah temannya.
            Seperti biasanya, setiap pagi aku hanya bisa menatap dan memandangi mereka satu persatu sambil menikmati suara-suara bising kendaraan mereka yang tidak mengenakkan itu.  Kadang aku juga ikut tersenyum bangga melihat anak-anak SD yang sedang berangkat ke sekolah. Anak-anak itu begitu santun, setiap kali mereka lewat pasti aku akan mendengar lagu-lagu anak yang mereka nyanyikan secara serentak. Sangat lucu dan menghiburku di pagi ini. Sesekali anak-anak itu menyapaku,
 Assalamualaikum, Pagi Om”, kata mereka serentak tatkala melihat aku tersenyum memandangi mereka.
 Waalaikum salam, Belajar yang rajin…ya”, jawabku spontan.
 Ya.. Om”, jawab mereka lagi. Begitulah setiap hari, setiap pagi, setiap jam-jam anak-anak itu berangkat ke sekolah.
Sepuluh anak itu sangat akrab sekali. Mereka selalu menampakkan kekompakkannya. Padahal mereka tidak ada satupun yang satu sekolah, semuanya sekolah di tempat yang berbeda-beda dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Orang-orang tua dari sepuluh anak itu sudah lama meninggal dunia, sewaktu mereka masih kecil, berumur 2 tahun. Mereka semuanya diasuh dan dibesarkan di lungkungan Panti Asuhan Ash-Shahwah Pekanbaru. Mereka di besarkan di Panti itu oleh seorang Ibu yag sudah tua, Ibu Herlena namanya. Dia seorang ibu janda yang tidak mempunyai anak. Sudah 20 tahun ia ditinggalkan suaminya ke negeri akhirat. Diumurnya yang sudah lewat setengah abad itu sama sekali tidak memupuskan semangatnya mendidik dan membesarkan anak-anak panti asuhan Ash-Shahwah. Panti itu adalah panti peninggalan  almarhum suaminya. Sempat selam 3 tahun ia bersama almarhum suaminya mengelola panti itu. Tapi itulah takdirnya, setelah itu suaminya meninggalkannya untuk selamanya.
Selama 23 tahun, selama panti itu berdiri, sudah lebih dari 500 anak yatim piatu di sekolahkan oleh ibu Herlina. Ibu Her, itulah panggilanku untuk ibu yang luar biasa itu, dia pernah bilang kepadaku “Ibu ingin menyekolahkan 1000 anak yatim selama hidup ibu” katanya dengan penuh semangat dan optimis ketika itu.
Itulah ibu Her, Ibu tua kurus yang rambutnya dipenuhi uban itu, tak pernah pupus semangatnya.
***
            Sepuluh anak itu, Iki, Lara, Sita, Bambo, Andi, Suma, Dara, Fikri, Asa, dan Dama. Mereka sangat bersemangat dan selalu optimis dalam menempuh hidup mereka. Sikap itulah yang diajarkan bu Her setiap hari, sebelum mereka berangkat ke sekolah. Mereka setiap pagi bu Her kumpulkan di lapangan Panti dan memberikan motivasi hidup untuk mereka. Walaupun suara itu pelan, pelan sekali, tapi menyentuh ke hati.
            “Hidup ini tantangan, perjuangan, dan kesabaran. Tantangan itu hanya dapat dilalui dengan perjuangan yag diiringi dengan kesabaran.”
            “Percayalah pada Tuhan. Dengan kepercayaan itulah seharusnya kalian menjalani hidup.”
            Mereka, sengaja bu Her sekolahkan di tempat yang berbeda-beda. Iki di SD 01, Lara di SD 02, Sita di SD 03, Bambo di SD 04, Andi di SD 05, Suma di SD 06, Dara SD 07, Fikri di SD 08, Asa di SD 09, dan Dama di SD 010.
            “Agar mereka lebih mandiri dan saling berbagi pengalaman,” kata bu Her
            Walaupun mereka berada di sekolah yang berbeda satu sama lain, tetapi mereka berangkat ke sekolah tetap bersama dan pulang bersama. Kalau ada diantara mereka yang pulangnya pada waktu yang berbeda, yang pulang duluan harus menunggu teman yang lain di simpang jalan menuju Panti. Baru setelah lengkap 10 orang mereka pulang ke panti. Dalam keadaan menunggu, pasti mereka gunakan untuk membaca buku yang dibekali bu Her kepada mereka masing-masing.

***
            Jam sudah menunjukan pukul 08:00 pagi. Suara desing motor-motor itu masih saja mengusik telingaku. Mungkin inilah konsekuensi karena aku tinggal di pinggiran jalan raya kota.
            Tak lama setelah anak-anak itu berangkat. Tampaklah seorang ibu, lebih tepatnya seorang nenek tua, yang umurnya sudah lebih dari setengah abad, berjalan mendorong gerobak tuanya . Ibu itu tampak segar dan kuat. Walaupun sesekali tampak ia menghela napas, berat sekali. Sehingga ia harus berhenti mendorong gerobaknya sejenak, sekedar menghirup udara untuk bernapas, sepertinya ibu itu sudah lama menderita asma. Tapi semangat yang terlihat dari wajah keriputnya itulah yang membuatnya kuat mendorong gerobak tuanya itu yang penuh dengan sayur-sayuran yang ditanamnya sendiri di kebun pantinya.
            Dialah Ibu Herlina, dan itulah usahanya, berjualan sayur keliling demi menghidupi dan mencapai cita-citanya, “Menyekolahkan 1000 anak yatim selama hidupnya”.
***

            Jam menunjukkan pukul 11:00 WIB. Matahari semakin meninggi, hampir di atas kepalaku, tegak menyinari bumi. Cahayanya menghangatkan bahkan membuat suhu sangat panas. Rumah-rumah sudah menyalakan AC atau kipas anginnya. Jam 11 waktunya anak-anak panti asuhan Ash-Shahwah pulang dari sekolah mereka masing-masing.
            Panti berukuran 15 X 4 meter itu tampak tenang dan menyejukkan. Di depannya terdapat lapangan seluas 7 X 5 meter yang dihiasi dengan bunga dan sayur-sayuran. Kebun sekaligus tempat bermain anak-anak panti. Setiap hari libur sekolah, bu Her mengajarkan anak-anak itu menanam sayur dan bunga hias.
            Suasana sejuk di panti yang dicat warna-warni itu menandakan di dalamnya penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Disanalah tempat bu Her mengajarka anak-anak asuhnya mengaji, membaca, menulis, mengajari sholat, puasa, dan kultum.
            Seperti biasa, Aku selalu menunggu anak-anak panti pulang dari sekolah mereka masing-masing. Mengharapkan sapaan santun mereka dan menunjukkan senyum manisku untuk mereka. Begitu juga dengan bu Her, dia sudah siap-siap menunggu anak-anak asuhnya itu di depan panti, menyiapkan senyuman termanisnya serta kasih sayangnya.
            Setiap hari kami rela menunggu berlama-lama hanya sekedar memberikan senyuman termanis kami. Setiap hari. Tapi mengapa orang-orang di sini malah menertawakan kami, atau kasihan melihat keadaan kami?, mungkinkah karena suara serunai ambulan 2 tahun lalu, datang ke panti ini membawa 10 mayat anak-anak yang tidak lagi dapat kami kenal karena terbakar? Sungguh kejam para penjajah laknatullah yang tega mengebom sekolah-sekolah mereka.
           

           

0 komentar:

Posting Komentar