ini cerpen kedua saya yang diterbitkan di riau pos tahun 2010
di sepuluh ramadhan terakhir, saat baru pertama belajar menulis
Oleh
: Jumardi
Jam menunjukkan pukul 07:21 pagi.
Lampu neon berkapasitas 50 watt yang tergantung tepat di atas tempat tidur
sudah aku matikan. Langit, satu jam sebelumnya sudah membuka pintunya.
Menampakkan makhluk Tuhan yag ada di belakangnya. Mentari pagi ini begitu
cerah. Cahayanya sudah sangat mengalahkan lampu neon bundar yang masih tergantung di
atas tempat biasa aku terlelap itu. Desing motor sudah tidak terhenti lagi
berbunyi, bondar bandir orang-orang melewati depan rumahku. Ada yang ke pasar
untuk berjualan sayur, buah-buahan, peralatan dapur serta bumbu-bumbu dapur.
Ada juga yang pulang ke rumah habis menginap di rumah temannya.
Seperti biasanya, setiap pagi aku
hanya bisa menatap dan
memandangi mereka satu persatu sambil menikmati suara-suara bising kendaraan
mereka yang tidak mengenakkan itu.
Kadang aku juga ikut tersenyum bangga melihat anak-anak SD yang sedang
berangkat ke sekolah. Anak-anak itu begitu santun, setiap kali mereka lewat
pasti aku akan mendengar lagu-lagu anak yang mereka nyanyikan secara serentak. Sangat lucu dan
menghiburku di pagi ini. Sesekali anak-anak itu menyapaku,
“Assalamualaikum, Pagi Om”, kata mereka
serentak tatkala melihat aku tersenyum memandangi mereka.
“Waalaikum salam, Belajar yang
rajin…ya”, jawabku spontan.
“Ya.. Om”, jawab mereka lagi.
Begitulah setiap hari, setiap pagi, setiap jam-jam anak-anak itu berangkat ke
sekolah.
Sepuluh
anak itu sangat akrab sekali. Mereka selalu menampakkan kekompakkannya. Padahal
mereka tidak ada satupun yang satu sekolah, semuanya sekolah di tempat yang
berbeda-beda dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Orang-orang tua dari sepuluh anak
itu sudah lama meninggal dunia, sewaktu mereka masih kecil, berumur 2 tahun.
Mereka semuanya diasuh dan dibesarkan di lungkungan Panti Asuhan Ash-Shahwah
Pekanbaru. Mereka di besarkan di Panti itu oleh seorang Ibu yag sudah tua, Ibu
Herlena namanya. Dia seorang
ibu janda yang tidak mempunyai anak. Sudah 20 tahun ia ditinggalkan suaminya ke
negeri akhirat. Diumurnya yang sudah lewat setengah abad itu sama sekali tidak
memupuskan semangatnya mendidik dan membesarkan anak-anak panti asuhan
Ash-Shahwah. Panti itu adalah panti peninggalan
almarhum suaminya. Sempat selam 3 tahun ia bersama almarhum suaminya
mengelola panti itu. Tapi itulah takdirnya, setelah itu suaminya
meninggalkannya untuk selamanya.
Selama
23 tahun, selama panti itu berdiri, sudah lebih dari 500 anak yatim piatu di
sekolahkan oleh ibu Herlina. Ibu Her, itulah panggilanku untuk ibu yang luar
biasa itu, dia pernah bilang
kepadaku “Ibu ingin menyekolahkan 1000 anak yatim selama hidup ibu”
katanya dengan penuh semangat dan optimis ketika itu.
Itulah
ibu Her, Ibu tua kurus yang
rambutnya dipenuhi uban itu, tak pernah pupus semangatnya.
***
Sepuluh anak itu, Iki, Lara, Sita,
Bambo, Andi, Suma, Dara, Fikri, Asa, dan Dama. Mereka sangat bersemangat dan
selalu optimis dalam menempuh hidup mereka. Sikap itulah yang diajarkan bu Her
setiap hari, sebelum mereka berangkat ke sekolah. Mereka setiap pagi bu Her kumpulkan
di lapangan Panti dan memberikan motivasi hidup untuk mereka. Walaupun suara
itu pelan, pelan sekali, tapi menyentuh ke hati.
“Hidup ini tantangan, perjuangan,
dan kesabaran. Tantangan itu hanya dapat dilalui dengan perjuangan yag diiringi
dengan kesabaran.”
“Percayalah pada Tuhan. Dengan
kepercayaan itulah seharusnya kalian menjalani hidup.”
Mereka, sengaja bu Her sekolahkan di tempat yang
berbeda-beda. Iki di SD 01, Lara di SD 02, Sita di SD 03, Bambo di SD 04, Andi
di SD 05, Suma di SD 06, Dara SD 07, Fikri di SD 08, Asa di SD 09, dan Dama di
SD 010.
“Agar mereka lebih mandiri dan
saling berbagi pengalaman,” kata bu Her
Walaupun mereka berada di sekolah
yang berbeda satu sama lain, tetapi mereka berangkat ke sekolah tetap bersama
dan pulang bersama. Kalau ada diantara mereka yang pulangnya pada waktu yang
berbeda, yang pulang duluan harus menunggu teman yang lain di simpang jalan
menuju Panti. Baru setelah lengkap 10 orang mereka pulang ke panti. Dalam
keadaan menunggu, pasti mereka gunakan untuk membaca buku yang dibekali bu Her kepada mereka masing-masing.
***
Jam sudah menunjukan pukul 08:00
pagi. Suara desing motor-motor itu masih saja mengusik telingaku. Mungkin
inilah konsekuensi karena aku tinggal di pinggiran jalan raya kota.
Tak lama setelah anak-anak itu
berangkat. Tampaklah seorang ibu, lebih tepatnya seorang nenek tua, yang
umurnya sudah lebih dari setengah
abad, berjalan mendorong gerobak tuanya . Ibu itu tampak segar dan kuat.
Walaupun sesekali tampak ia menghela napas, berat sekali. Sehingga ia harus
berhenti mendorong gerobaknya sejenak, sekedar menghirup udara untuk bernapas, sepertinya ibu
itu sudah lama menderita asma. Tapi semangat yang terlihat dari wajah
keriputnya itulah yang membuatnya kuat mendorong gerobak tuanya itu yang penuh
dengan sayur-sayuran yang ditanamnya sendiri di kebun pantinya.
Dialah Ibu Herlina, dan itulah
usahanya, berjualan sayur keliling demi menghidupi dan mencapai cita-citanya, “Menyekolahkan
1000 anak yatim selama hidupnya”.
***
Jam menunjukkan pukul 11:00 WIB.
Matahari semakin meninggi, hampir di atas kepalaku, tegak menyinari bumi.
Cahayanya menghangatkan bahkan membuat suhu sangat panas. Rumah-rumah sudah
menyalakan AC atau kipas anginnya. Jam 11 waktunya anak-anak panti asuhan
Ash-Shahwah pulang dari sekolah mereka masing-masing.
Panti berukuran 15 X 4 meter itu
tampak tenang dan menyejukkan. Di depannya terdapat lapangan seluas 7 X 5 meter
yang dihiasi dengan bunga dan sayur-sayuran. Kebun sekaligus tempat bermain
anak-anak panti. Setiap hari libur sekolah, bu Her mengajarkan anak-anak itu
menanam sayur dan bunga hias.
Suasana sejuk di panti yang dicat warna-warni itu menandakan di dalamnya penuh
dengan kedamaian dan kasih sayang. Disanalah tempat bu Her mengajarka anak-anak
asuhnya mengaji, membaca, menulis, mengajari sholat, puasa, dan kultum.
Seperti biasa, Aku selalu menunggu
anak-anak panti pulang dari sekolah mereka masing-masing. Mengharapkan sapaan
santun mereka dan menunjukkan senyum manisku untuk mereka. Begitu juga dengan bu Her, dia sudah siap-siap
menunggu anak-anak asuhnya itu di depan panti, menyiapkan senyuman termanisnya
serta kasih sayangnya.
Setiap
hari kami rela menunggu berlama-lama hanya sekedar memberikan senyuman termanis
kami. Setiap hari. Tapi mengapa orang-orang di sini malah menertawakan kami,
atau kasihan melihat keadaan kami?, mungkinkah karena suara serunai ambulan 2
tahun lalu, datang ke panti ini membawa 10 mayat anak-anak yang tidak lagi
dapat kami kenal karena terbakar? Sungguh kejam para penjajah laknatullah yang
tega mengebom sekolah-sekolah mereka.

0 komentar:
Posting Komentar