Pages

Selasa, 16 Oktober 2012

Perempuan yang Menyukai Hujan

Oleh: Nafi`ah Al-Ma`rab

Perempuan separuh baya itu memamahkan dirinya pada hujan. Ia terus saja berdiri memandangi gelombang laut berwarna coklat. Rautnya telah menua, meski tak setua usianya. Jujur ada gurat-gurat ayu yang masih tersisa di wajahnya, tapi sepertinya kian hari kian memudar. Luka di hatinya adalah bara yang selalu mematikan senyumnnya di setiap pagi. Minah telah sejak tadi berdiri mendekap tiang pelabuhan. Sejak hujan mulai turun rintik-rintik pagi ini. Matanya tak bergeser menatap deretan kayu punak yang berbaris setinggi dua kali ukuran manusia. Maklum lah air sedang surut, pancik pelabuhan menjadi lebih tinggi dari biasanya. Perempuan-perempuan muda harus berteriak-teriak minta tolong awak kapal saat akan naik ke pelabuhan. Minah terus saja memandangi deretan penumpang yang baru turun dari kapal keritang. Matanya kuyu, jilbab kusamnya tetap terbalut rapi di kepalanya. Baju katunnya sedikit basah, tapi sepertinya ia tak peduli dengan kondisinya. Ia tetap berdiri memeluk tiang pelabuhan. Menatapi wajah-wajah oriental yang melintasinya.
Satu dua orang memperhatikannya. Mungkin saja hati mereka merasa sedikit aneh menatap Minah. Tapi wajah-wajah itu tak ambil pusing. Bukan urusan, mereka tentu lebih terfokus pada urusan masing-masing. Mungkin saja mereka berpikir Minah adalah pengemis pelabuhan Teluk Belitung, Meranti. Tidak, Minah adalah wanita tegar, dia tak pernah mengemis kepada siapa pun. Berhari-hari ia di pelabuhan hanya untuk menepati janji setianya. Sayyid, suami tercintanya telah menorehkan luka terdalam. Tapi Minah betul-betul wanita baik, ia terus di situ untuk menunggu.
            “Wan, ada kau nampak Sayyid?” Minah mengalihkan pandangannya pada seorang awak kapal yang tengah keberatan mengangkat barang penumpang.
            “Sayyid?” yang disapa hanya menaikkan alis.
            “Wan, dimana kau jumpa Sayyid? Sudah sampai mana dia? sampai Semukut kan, Wan?” Minah terus saja bersuara. Lagi-lagi yang disapa tak menggubris. Beberapa penumpang terlihat aneh menatap Minah. Ada dua tiga wajah berbisik, ada pula yang tertawa. Raut muka Minah memuram.
            “Wan, aku tanya kau lah. Ada kau jumpa, Sayyid?”
            “Sayyid dah meninggal. Tak usah lagi kau tunggu dia, Minah.” Lelaki itu menjawab asal sambil tak menoleh. Ia lebih sibuk menagih uang lima ribu kepada penumpang untuk sewa upah barang.
            “Kau jangan asal bicara, Wan! Sayyid akan pulang ke rumah. Dia pasti pulang. Jangan sembarangan kau cakap!”
            “Kalau kau tak percaya, tunggu saja sampai kiamat di pelabuhan. Sayyid tak akan pulang, Minah!” Lelaki itu tak mau kalah. Matanya sesekali menatap Minah sambil tangannya lincah menghitung lembaran lima ribu.
            Minah kembali berbalut duka. Sayyid adalah suami tercinta. Ia pergi bak ditelah bumi. Orang-orang bilang Sayyid pergi bersama Latifah, sahabat karib Minah semenjak kecil. Tapi Minah perempuan yang terlalu baik. Ia tak pernah percaya pada kabar burung yang diisukan tetangga. Ia lebih percaya pada jantung hatinya. Lelaki yang selama dua puluh tahun usia pernikahannya tak pernah membuatnya menangis. Mungkin kedengarannya terlalu mengada-ada. Tapi itulah yang dirasakan Minah.
Sayyid lelaki terbaik di dunia. Suami yang mengerti kesibukan istri. Bila Minah sedang menakik karet di belakang rumah, Sayyid lah yang memasak di dapur. Bila Minah kesiangan bangun tidur, Sayyid telah siap dengan dua pinggan nasi goreng di tangannya. Tak ada yang kurang pada Sayyid. Dia lah pria sempurna yang diturunkan Tuhan untuk Minah. Minah terlalu mencintai Sayyid.
            Minah menepis air hujan yang menyinggahi bulu matanya. Bajunya telah kuyup. Tangannya pun memeras kain katun itu hingga mengucur lah air segelas kecil. Minah tak pedulikan hujan. Mungkin Sayyid memang tak datang dengan kapal keritang, tapi mungkin ia akan datang dengan kapal tenggiri, dua jam lagi. Hujan terus merentasi pelabuhan. Daratan tampak meluas. Pantai itu tak biru, tapi kecoklatan. Puluhan ekor burung walet berterbangan melintasi Minah. Perempuan itu sesekali tersenyum menatap burung walet. Teringat kisah cintanya yang bermula dari rumah ternak burung walet bersama Sayyid.
Sayyid dulu punya usaha rumah burung walet, sewaktu mudanya. Tak sengaja Minah melintasi rumah itu saat Sayyid tengah berdiri di depan rumah. Putik cinta pun bersemi. Bergegas Sayyid mencari tahu rumah dan keluarga Minah. Kisah yang singkat, Minah pun menerima pinangan Sayyid. Tahun-tahun pertama adalah tahun kebahagiaan kehidupan Minah. Minah berpikir kondisi rumah tangganya akan sama dengan kondisi rumah tangga orang pada umumnya. Mengecapi manisnya kebahagiaan hanya pada tahun-tahun pertama. Tapi tidak, doa Minah di waktu muda setiap usai sembahyang pun terkabul. Hampir dua puluh tahun usia pernikahannya, Minah dan Sayyid masih setia, layaknya pengantin baru. Semua orang iri pada Minah.
            “Mantap suami kau, Minah.”
            “Itu anugerah Tuhan untukku.”
            “Tapi kau mesti lah hati-hati juga, Minah”
            “Kenapa?”
            “Sayyid terlalu tampan.”
Minah waktu itu hanya tersenyum. Ia juga mengakui ketampanan suaminya. Sebab itu lah ia selalu bahagia. Tuhan seolah telah mengirimkan malaikat padanya. Pria yang tampan, baik serta mampu mendidik anak-anak menjadi orang yang bermarwah di kampung.
            “Apa lagi yang kau tunggu, Minah? Pulang lah!”
            “Aku menunggu kapal tenggiri, Wan!”
            “Tenggiri hari ni tak jalan, Minah.”
            “Tak jalan? apa pasal? Kau pasti bohong, Wan!”
            “Aku tak bohong lah, Minah. Sebab tu lah kapal aku tadi penuh.” Kali ini lelaki awak kapal yang dipanggil Wan itu tampak serius. Ia seperti hiba melihat tingkah Minah. Bagaimana pun Minah adalah temannya sedari kecil. Ia tahu bagaimana kisah rumah tangga Minah. Minah terlalu polos, ia lebih percaya pada lelaki yang teramat dicintainya ketimbang sahabat-sahabatnya.
            “Sayyid pasti pulang kan, Wan? Kalau tak hari ni, mungki esok.” Wan tak menjawab. Ia menghulurkan sebuah payung kumal pada perempuan itu.
            “Kau pakai payung ni, Minah. Kau dengan siapa kemari?”
            “Aku sendiri. Tak payah lah Wan, aku suka hujan.”
            “Nanti kau sakit. Aku panggil tukang ojek kemari?”
            “Tak payah, Wan! Aku bawa motor.”
            “Jadi apa yang bisa kubantu?”
            “Tak payah, kau pulang lah! Aku di sini suka hujan.”
            Wan berpikir sejenak, lalu ia pun berlalu. Ia mengayuh motor tuanya menuju rumah Minah, mencari Dullah, putra Minah yang barang kali kelimpungan mencari perempuan itu.
*****
            Berita kepulangan Sayyid telah lebih dulu sampai ke telinga-telinga orang. Minah bahkan tak tahu. Orang-orang di pasar Teluk Belitung yang sibuk bercerita. Minah berusaha menebalkan telinga. Ia memilah ikan tenggiri dengan sedikit menutup telinga.
            “Kak Minah, aku semalam jumpa Bang Sayyid.” Seorang perempuan muda tiba-tiba menepuk pundak Minah.
            “Sayyid? Kau tak bohong? Dimana dia?” Minah tergagap.
            “Kak Minah jangan sedih, ya!”
            “Kenapa? kenapa dengan Sayyid?”
            “Dia bersama Latifah.”
            Ahh, Minah masih tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Tak mungkin, tak mungkin Sayyid bersama Latifah. Latifah dulu pernah berjanji padanya saat sedang makan sepinggan dengan Minah. ‘Kalau pun akan menikah, aku tak mungkin dengan suami orang, Minah. Lagi pula hatiku sudah tawar dengan laki-laki, aku sulit untuk jatuh cinta lagi.’ Itulah ucapan Latifah, Minah mengingat itu selalu.
            “Kau pasti salah orang!”
            “Tidak Kak Minah, itu betul-betul Bang Sayyid. Dia juga menyapaku.”
Tubuh Minah melemas. Beruntung perempuan itu berfisik sehat hingga tak langsung terkulai. Ia bergegas membawa keranjang belanjanya. Ia pulang ke rumah, mungkin Sayyid sudah di rumah, Ya, Minah percaya Sayyid pasti pulang ke rumah, Sayyid pasti ingin bertemu dengannya, barang sejenak saja. Minah cuma ingin bilang, sudah hampir setahun ia menghabiskan waktu di pelabuhan, menunggu kepulangan suaminya itu. Sayyid pasti masih mencintainya, Sayyid pasti masih seperti yang dulu, yang membuat hari-harinya selalu tersenyum. Minah melarikan cepat motornya ke rumah, tak sabar ia ingin melihat Sayyid, ya Sayyid pasti telah menunggunya di rumah. Mungkin Latifah cuma kebetulan bertemu dengan Sayyid, ya mungkin cuma kebetulan.
Minah memarkirkan motornya begitu saja di depan tangga papan rumah panggung itu. Ia tak peduli motor astrea lawas itu nyaris terguling. Ia mempercepat langkahnya menaiki tangga rumah. Didapatinya Dullah duduk termenung.
“Dullah, mana ayahmu? Ayahmu datang kemari kan?” Minah terus bertanya sambil matanya jelalatan hingga ke ruang dapur. Dullah mengangguk tak bersemangat, lelaki berusia belasan tahun itu menatap penuh makna pada sang ibu. Wajahnya seperti menyimpan beban.
“Sayyid pulang, mana dia, Dullah? Kau tak bilang Mak sedang ke pasar?”
“Ayah dah pergi, Mak. Sudah lah Mak tak usah tanya-tanya ayah lagi.”
“Apa maksud kau Dullah? Dia ayahmu, suami Mak.”
“Ayah pulang bukan nak jumpa dengan Mak, dia cuma nak ambil itu.” Dullah menunjuk amplop padi kosong. Mata Minah terbelalak, ia ingat betul isi amplop tersebut.
“Sayyid ambil sertifikat rumah?”
“Ya, Mak. Tak usah lagi Mak harap lelaki tu. Dullah pun dah tak anggap dia ayah Dullah lagi Mak.” Dullah dengan wajah tak sedap berlalu menuruni tangga. Lelaki itu tak menangis, ia hanya menyembunyikan kekesalan dalam wajahnya. Ia pu tak tega menangis di depan ibunya yang tengah gundah gulana. Dullah mengambil motor Minah dan bersegera membawanya pergi.
Azan telah berkumandang, Dullah pergi ke masjid. Minah merapatkan bibirnya, perempuan itu menyimpan tangisnya dalam hati. Mungkin esok hari ia tak akan lagi menyukai hujan. Hujan telah membawa Sayyid hilang bersama kenangan. Ah, biar lah Sayyid sang pecinta itu pergi. Kini ia hanya merasakan kedekatan Sang Maha Cinta itu di hatinya. (Cerpen Pemenang Lomba Penulisan Cerpen Se- FLP Riau)

0 komentar:

Posting Komentar