21.20
Jumat malam dalam hembusan kipas angin yang membawa arah
kesejukan
Namun tak dapat menyejukkan hati yang semakin membara geloranya
agar segera…
Tertulislah karena
masih punya Tuhan
Oleh: Jumardi
Dalam ruang hampa tak terlihat hembusan kelegaan
Yang ada hanyalah sendiran kekerambitan yang terkurung dalam
kesendirian
Jiwanya terhapus dari jasad yang membeku
Melesu lemah tak berdaya lunglai
Kekuatan itu sudah hilang dalam sunyi di tengah isik
Meraung dalam bisu yang membungkam suara hembusan nafas
Hatinya beku tanpa bahan es yang mencengeram bumi jantungnya yang juga tak lecat
Oh,, engkau yang sedang tertunduk dalam raum raut wajah
sendumu
Ikutlah,,iringi langkah kaki yang tak bertapak
Yang terbang melesat di udara yang tanpa angin dan oksigen
Lari juga tak mungkin menjadi arena lapangan di ruang sempit
hatimu
Kaku beku tanpa bahan es
Dingin, padahal sudah dibilang tak berudara angin celika
Jauh sekali memang untuk yang dirunduk malang
Tersesak dalam ruang tak berangin,,tentulah tak bercahaya
Terulang lagi kisah jauh pada masa, pada zaman keelangan Rum
Mengaum harimaunya dikandang emas karena tak dapat melompat
menerkam
Menunggu juga tak teraung,,,karena sempit lagi sesak
Akhirnya ia juga membeku dalam kehampaan angin yang tanpa
hembusan
Sedihkah dikau?
Mungkin saja itu hanyalah sebuah oase khayalan di saat mimpi
manis yang terbalik
Menguak rasa gundah dalam kesedihan
Karena tak kuat menahan beban
Banyak masalah juga cobaan yang silih berganti
Mengganti arah angin yang sampai kini tak juga berhembus
Lalu darimanakah ia dapat berarah?
Ooh,, ternyata dari hati yangnya sedikit terengguh piker
Bahwa ia masih punya Tuhan.
Jumardi
Bergiat di Komunitas ALINEA
FLP Pekanbaru

0 komentar:
Posting Komentar